Wednesday, October 28, 2015

Respirasi

Respirasi
          Pernapasan disebut juga sebagai ventilasi merupakan proses pergerakan udara menuju dan keluar dari paru-paru (Tate,2012). Sedangkan menurut Pasley¸2003 ventilasi merupakan proses yang terjadi ketika udara bergerak  dari udara menuju ke alveoli . Dalam proses ini, terdapat dua fase, berupa: fase insprirasi dan ekspirasi. Fase inspirasi disebut juga sebagai inhalasi merupakan pergerakan udara menuju paru-paru, sedangkan ekspirasi merupakan pergerakan udara keluar dari paru-paru (Tate,2012). Perubahan volume thoracic akan menyebabkan perubahan pada tekanan udara pad paru-paru (Tate,2012).  Pernapasan terbagi menjadi pernapasan eksternal dan internal. Respirasi eksternal terjadi di paru-paru dan merupakan pertukaran gas antara alveoli pada paru-paru dan darah di kapiler pulmonari yang melewati respirasi membran (Tortora and Derrickson, 2012). Pada proses ini kapiler pulmonari darah memperoleh oksigen dan kehilangan carbondioksida (Tortora and Derrickson, 2012). Respirasi internal atau respirasi seluler terjadi pada jaringan merupakan perubahan gas antara darah di sistem kapiler dan sel jaringan (Tortora and Derrickson, 2012). Pada step ini darah kehilangan oksigen dan membawa karbondioksida (Tortora and Derrickson, 2012). Pada sel, reaksi metabolik membutuhkan oksigen dan membuang karbondioksida pada produksi ATP (Tortora and Derrickson, 2012). Laju ventilasi akan diregulasi dengan menyesuaian aliran udara antara atmosfer dengan alveoli berdasarkan metabolis tubuh yang membutuhkan oksigen dan mengehilangkan karbondioksida (Sherwood, 2010). Frekuensi pernapasan atau disebut juga sebagai laju respirasi merupakan jumlah napas yang diambil setiap menit (Tate,2012).

          Total ventilasi persatua waktu merupakan volume udara yang dihirup atau dihembuskan persatuan waktu (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Saat istirahat, total ventilasi 8L/menit dengan konsumsi oksigen sejumlah 0,3L/menit  dan tahap pembuangan karbondioksida mempunyai laju sebesar 0,25L/menit (Silbernagl and Despopoulos, 2009).
                    Ruang mati merupakan bagian dari sistem respirasi yang tidak mengalami pertukaran udara (Tate,2012). Rongga hidung, faring, laring, trakea, bronciolus, bronkus dan terminal bronkiolus dari 150 ml ruang mati (Tate,2012). Alveoli yang tak berfungsi menambah ruang mati (Tate,2012). Pada seseorang yang sehat alveoli yang mengalami nonfungsional sangat sedikit (Tate,2012). Ruang mati terdapat 2 berupa: ruang mati anatomi dan ruang mati fisiologi (Banerhee, 2005). Ruang mati anatomi mengacu pada volume udara sekitar 130-180 mL pada dewasa (Banerhee, 2005). Ruang mati anatomi dapat diukur dengan metode Fowler (Banerhee, 2005). Ruang mati fisiologi berupa proporsi volume tidal yang tidak berpartisipasi secara langsung pada pertukaran gas (Banerhee, 2005). Ruang ini terdiri atas ruang mati anatomi dan ruang mati alveolar (Banerhee, 2005). Ruang mati fisiologi dapat diukur dengan metode Bohr (Banerhee, 2005). Paru-paru normal memiliki ruang mati anatomi dan ruang mati fisiologi yang sama sekitar 150 mL (Shier et al., 2007).  
          Spirometer merupakan sebuah alat untuk mengukur  volume udara saat dikeluarkan persatuan waktu (Banerhee, 2005). Alat ini tak dapat mengukur volume residu (Shier et al., 2007). Pada spirometer terdapat air yang memenuhi tank dengan alat berbentuk bel yang mengambang, kemudian dihubungkan dengan ruangan udara dengan spirometer yang akan dihubungkan dengan subsyek tes (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Terdapat bahan yang akan mengimbangi dan terletakkan pada bel (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Posisi bel ini akan menandakan berapa banyak udara yang berada di spirometer dan telah dikalibrasi dengan unit volume (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Bel akan naik ketika subyek tes meniup kealat (ekspirasi) dan turun ketika inspirasi (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Pada alat flow transducer aliran sinyal yang telah expired  terintergrasi secara elektronik dengan waktu dan provide volume, selanjutnya sinyal volume terakhir berdiferensiasi dengan membentuk provide flow (Banerhee, 2005). Spirometer digunakan untuk mengevaluasi sakit pernapasan seperti emfisema, pneumonia, kanker paru-paru, dan asma (Shier et al., 2007).  Volume paru-paru dan kapasitasnya terdiri atas:
a.    Volume tidal merupakan volume udara yang dapat bergerak masuk-keluar dari paru-paru setiap pernapasan (Pasley¸2003). Volume tidal selalu kurang lebih 500mL (Pasley¸2003).
b.    Volume cadangan inspirasi merupakan volume udara yang dapat diinspirasikan dengan tarikan napas secara maksimal, dimulai pada akhir respirasi normal dengan volume 2-3L (Pasley¸2003)
c.    Volume cadangan ekspirasi berupa volume udara yang dapat dikeluarkan dengan hembusan napas maksimal dan dikeluarkan setelah hembusan napas normal (Pasley¸2003).
d.    Volume residu merupakan volume udara yang tertinggal pada alveolar dan ruang mati setelah respirasi maksimum dan memiliki volume 1,5 L (Pasley¸2003). Volume residu tak dapat diukur dengan sprirometer sederhana karena pengukuran spirometer mengukur perubahan volume paru-paru dan bukan jumlah absolut pada paru-paru (Pasley¸2003).
e.    Kapasitas vital merupakan volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan setelah pengambilan napas maksimum (Pasley¸2003).
f.    Kapasitas total paru-paru merupakan volume maksimal udara pada sistem paru-paru setelah penarikan napas maksimal (Pasley¸2003).
Faktor yang mempengaruhi kapasitas vital paru:
a.    Usia, ketika usia bertambah organ-organ tubuh mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena dinding dada dan jalan napas telah kaku dan tak elastis sehingga pertukuran udara menurun (Pujiastuti, 2012).
b.    Hemogloblin, sebagai penyalur oksigen keseluruh tubuh dan ketika kadarnya turun jaringan akan kekurangan oksigen (Pujiastuti, 2012).
c.    Posisi tubuh, posisi yang berbeda akan menghasilkan diafragma tidak bekerja dengan baik karena harus melawan gravitasi (Pujiastuti, 2012).
d.    Ukuran tubuh (Banerhee, 2005)
e.    Kelamin (Banerhee, 2005)
f.    Irama otot diafragma (Banerhee, 2005)
g.    Penyakit paru-paru (Banerhee, 2005)

Sumber:
Banerhee, A. 2005. Clinical Physiology an Examination Primer. Cambridge. Cambridge. p. 121, 132, 133 130(Banerhee, 2005)
Pasley, J. N. 2003. Usmle Road Map Physiology. McGraw-Hill. New  York. p. 56, 57, 73
Pujiastuti, B. 2012. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kapasitas Vital Paru pada Ibu Hamil di Rb Sri Lumintu Jajar Laweyan Surakarta Naskah Publikasi Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Keperawatan. FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA. Surakarta. Hal. 4,5
Sherwood, L. 2010. Human Physiology from Cells to Systems. Brooks/Cole. Belmont, CA. p. 461 (Sherwood, 2010)
Shier, D., J. Butler, and R. Lewis. 2007. Hole’s Human Anatomy and Physiology. McGraww Hill. New York. p. 753 (Shier et al., 2007)
Silbernagl, S. And A. Despopoulos. 2009. Color Atlas of Physiology. 6th Ed. Thieme Verlag. New York. p. 106, 112 (Silbernagl and Despopoulos, 2009)
Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York.  p. 618, 623, 624
Tortora, G. J. And B. Derrickson. 2012. Principles of anatmoy and physiology. John Wiley and Sons. Hoboken. p. 936. (Tortora and Derrickson, 2012)


Monday, September 28, 2015

Good Laboratory Practice

Good Laboratory Practice
                GLP menurut definisi OECD adalah sebuah  sistem mutu  yang menyangkut proses organisasi dan kondisi dalam kesehatan non-klinis dan lingkungan pada studi keselamatan yang direncanakan, dilakukan, dimonitor, dicatat, diarsipkan dan dilaporkan (World Health Organization, 2009). Tujuan dari GLP merupakan mendorong perkembangan dari kulitas tes data dan menyediakan alat untuk menjamin pendekatan untuk studi pengaturan laboratorium, termasuk tindakan, pelaporan dan pengarsipan (World Health Organization, 2009).
                Bekerja di laboratorium akan menjumpai bahaya berupa: fisik, kimiawi dan biologik. Bahaya fisik ada pada peralatan umum atau sekitarnya (Estridge et al., 2000). Alat elektrik, api, instrumen laboratorium, dan peralatan gelas dapat berbahaya ketika digunakan secara tidak hati-hati (Estridge et al., 2000). Peralatan elektrik harus mengikuti instruksi pabrik dan berdasrkan kode elektrikal (Estridge et al., 2000). Alat elektrik harus dalam keadaan mati saat baru mau digunakan (Estridge et al., 2000). Penggunaan api  dalam laboratorium seperti lampu bunsen harus hati-hati terhadap baju dan rambut agar tak terkena api (Estridge et al., 2000). Bahan-bahan yang mudah terbakar harus diletakkan pada lemari tahan api (Estridge et al., 2000).
                Bahan kimiawi berbahaya dapat karena memiliki sifat seperti toksik, korosif,karsinogenik, mutagenik, dan mudah terbakar (Estridge et al., 2000). Bahan kimia harus diberi label informasi bahaya. Pabrik bahan kimia kini menyediakan label  informasi bahaya pada kontainer dan memberikan Matery Safety Data Sheets (MSDS) untuk setiap bahan kimia yang berpotensi berbahaya.
                Health Hazard merupakan bahan yang bersifat: toksisitas akut,korosif pada kulit/ iritasi, iritasi mata atau kerusakan mata secara serius, sensisitas kulit atau pernapasan, penyakit sel mutagenik, karsinogenik, toksisitas reproduksi, spesifik organ, dan bahaya aspirasi (United Nations, 2011).  . toksisitas akut masuk melalui oral atau dermal dengan satu dosis substrat  atau beberapa dosis yang diberikan 24 jam atau 4 jam terpapar dengan pernapasan. Iritasi atau korosif merupakan terjadinya kerusakan irreversible yang terjadi pada kulit pada lapisan epidermis dan dermis. Iritasi mata dapat terjadi akibat perubahan mata karena terjadi penggunaan substansi test mengenai lapisan anterior mata yang dapat kembali setelah 21 hari, sedangkan kerusakan mata secara serius tidak dapat sembuh dengan waktu 21 hari. Sensisitas kulit terjadi karena substansi menyebabkan reaksi alergi yang terjadi akibat kontak kulit. Sensisitas pernapasan menghirup substansi. bahaya pada lingkungan dapat terjadi karena bahan dapat merusak: lingkungan aquatik dan  lapisan ozon (United Nations, 2011).
                MSDS (material safety data sheet) merupakan dokumen yang berisi properti produk secara fisik dan kimiawi serta potensi bahayanya, yang berisi menangangan dengan aman dan penggunaannya (Nelson and Grubbs, 2000)
Sumber:
Estridge, B. H., A. P. Reynolds, and N. J. Walter. 2000. Basic Medical Laboratory Techniques. 4th Ed. Delmar. New York. P. 38,39(Estridge et al., 2000) United Nations. 2011. Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals (GHS). United Nations. New York. p. 109, 121, 133, 145, 155, 163, 173, 197, 207. 215, dan 241.
 Nelson, S. M. And J. R. Grubbss. 2000. Hazard Communication Made Easy: A Checklist Approach to OSHA Compliance.  Goverment Institutes.
World Health Organization. 2009. Hand Book Good Laboratory Practice (GLP) Quality Practice for Regulated non-Clinical Research and Development. 2nd ed. Switzerland. P. 21. (World Health Organization, 2009)


Hewan coba

Hewan coba
          Hewan coba merupakan hewan yang digunakan dalam penelitian biologi dan biomedis yang dipilih dengan memenuhi syarat atau standar pada penelitian (Ridwan, 2013). Hewan coba yang digunakan harus sehat dan berkualitas yang sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan (Ridwan, 2013). Hewan kecil yang digunakan dalam penelitian biasanya memiliki karakteristik yang relatif mirip dengan manusia. Hewan lainnya digunakan sebagai hewan coba karena memiliki kesamaan aspek fisiologis metbolit manusia (Ridwan, 2013).
          Animal welfare merupakan profil etika yang melibatkan hewan dibawah  pengawasan dan manajemen kita (Lawrence and Stott, 2009). Dalam penelitian dengan hewan coba diterapkan konsep 3R berupa: replacement, reduction, dan refinement (Ridwan, 2013).  Replacement berupa penggunaan hewan percobaan harus diperhitungan dengan teliti, baik dari pengalaman terdahulu ataupun literatur yang memaparkan informasi penelitian dan tidak bisa menggunakan makhluk hidup lain berupa sel atau jaringan  (Ridwan, 2013). Replacement terdiri dari relatif (mengganti hewan percobaan dengan organ atau jaringan) dan absolut (mengganti hewan coba dengan kultur sel, jaringan ataupun program komputer (Ridwan, 2013).  Reduction merupakan menggunaan hewan coba dengan jumlah yang sedikit mungkin untuk mencapai hasil optimal (Ridwan, 2013). Refinement merupakan perlakuan hewan coba semanusiawi mungkin dengan cara memelihara dengan baik, tak menyakitinya serta meminimal mungkin perlakuan yang menyakitkan sehingga kesejahteraan hewan coba terpelihara sampai penelitian berakhir (Ridwan, 2013). Selain itu, hewan yang kita gunakan untuk keperluan saintis membutuhkan: bebas dari haus, lapar dan malnutrisi; merasa nyaman dan memiliki tempat berlindung; pencegahan atau diagnosis tindakan secara cepat dalam hal kesakitan, penyakit, terkena parasit; bebas dari stress; serta dapat mengekspresikan perilaku normal (Hau and Van Hoosier, 2003).
          Jenis hewan coba yang digunakan minimal berupa hewan pengerat dan bukan hewan pengerat. Secara umum yang digunakan berupa tikus dan anjing, jantan dan betina, sehat dan dewasa. Tikus yang digunakan berumur 5-6 mingggu sedangkan anjing berumur 4-6 bulan (Harmita dan Radji, 2006)

Sumber:
Harmita dan M. Radji. 2006. Buku Ajar Analisis Hayati. Ed. 3. EGC. Jakarta. P. 58.
Hau, J. And G. L. Van Hoosier, Jr. 2003. Handbook of Laboratory Animal Science. 2nd Ed. CRC Press. New York. p. 58
Lawrence, A. B. And A. W. Stott. 2009. Profiting from Animal Welfare: an Animal-Based Perspective. The Oxford Farming Conference 2009. Oxford. P. 1

Ridwan, E. 2013 Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian Kesehatan. J Indon Med Assoc. 63 (3): 112-116. (Ridwan, 2013)

Friday, September 18, 2015

Teknik dasar mikroobiologi

PERHATIAN DILARANG COPY-PASTE TANPA EDITING!!!

SAYA MEMBUAT INI UNTUK REFERENSI BUKAN SEBAGAI MASTER LAPORAN!
Teknik dasar mikroobiologi
                Teknik aseptik merupakan teknik dengan prosedur spesifik yang digunakan untuk mencegah mikrooganisme yang tak diinginkan agar spesimen tak mengalami kontaminasi (Willey et al., 2008). Sterilisasi merupakan prosedur yang digunakan untuk menghilangkan atau membunuh seluruh mikroorganisme di material atau diobjek (Black, 2008). Steril merupakan keadaan dimana tidak ada oganisme yang hidup dimaterial (Black, 2008).
            Medium merupakan pengolahan yang dibuat secara khusus untuk pertumbuhan, penyimpanan atau tranport mikrooganisme atautipe sel lainnya. Medium digunakan untuk kultur, perbanyakan atau identifikasi mikroorganisme. identifikasi ini dilakukan dengan melihat karakteristik pertumbuhan di media yang partikular.

Sumber:
Black, J. B.  2008. Microbiology: Principles and Explorations. John Wiley and Sons. Hoboken, NJ. p. 343, 342
Singleton, P. And D. Sainsbury. 2006. Mikrobiology and Molecular Biology. 3th Ed. John Wiley and Sons. West Sussex. P. 463
Willey, J. M., L. M. Sherwood, and C. J. Woolverton. 2008. Prescott, Harley, and Klein’s Microbiology. McGraw Hill. Boston. p. 861

Penangan Hewan Coba

PERHATIAN DILARANG COPY-PASTE TANPA EDITING!!!
SAYA MEMBUAT INI UNTUK REFERENSI BUKAN SEBAGAI MASTER LAPORAN!
Penangan Hewan Coba
a.       Housing
Desain, kontruksi dan pemeliharaan hewan coba pada fasilitas penelitian  berperan penting dalam tipe dan kualitas pemeliharaan pada laboratorium hewan (Suckow et al., 2006). Ruang pemeliharaan tikus dilokasi secara strukutural sehat, tahan vermin serta kuat terhadap rodenta (Suckow et al., 2006). Hewan coba harus terpisah dari kantor, laboratorium dan area yang sering ada manusia (Suckow et al., 2006). Fasilitas dalam housing harus memiliki kontrol yang baik terhadap parameter lingkungan dan memiliki kelebihan berupa essensial sistem mekanik (Suckow et al., 2006).
b.      Bedding
Bedding atau Subtrate Change yang telah kotor harus dipindahkan dan diganti dengan material baru untuk menjaga hewan coba bersih dan kering serta terhindar dari polutan (National Research Council, 2011). Frekuensi penggantian beddingbergantung pada spesies, jumlah, dan ukuran dari hewan; tipe dan ukuran kandang;suhu makro dan mikrolingkungan; kelembaban udara, ventilasi langsung kandang; pengeluaran urine dan feses; penampakkan dan kelembaban bedding; dan kondisi penelitian (National Research Council, 2011)
c.       Marking
Pada tikus, pewarnaan dengan membuat pewarnaan cincin pada ekor akan tertutupi dalam beberapa hari (Hau and Van Hoosier, 2003).  Mencukur rambut sebagian juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi sementra. Tato  dapat dilakukan secara permanen pada kulit seperti telinga dan  ekor (Hau and Van Hoosier, 2003).

d.      Rute administrasi zat uji
Rute administrasi zat uji dapat melalui oral, intravenous, intraperitoneal, subcutaneous, pompa osmotik dan intramuskular. Substansi yang dimasukkan kedalam oral digunakan untuk menguji keamanan komponen baru obat dan studi lainnya. Injeksi intravenous dilakukan untuk mengetest materi yang secara umumnya toksikologi dan sebagai basik pembelajaran sains. Injeksi intraperitoneal digunakan ketika rute lainnya tidak cocok (Suckow et al., 2006). Injeksi subcutaneous dilakukan untuk materi test dan mudah dilaksanakan. Pompa osmotik digunakan dengan penggunaan jangka panjang yang berkelanjutan dan mengirimkan substansi oleh subcutaneous atau rute intraperitoneal Suckow et al., 2006).

e.      Koleksi darah
Sample darah diambil dengan menganestesi dahulu. Daerah yang diambil darahnya adalah venipuncture (jugular vein, vein di ekor, saphenous vein, aorta abdominal atau vena cava pada necropsy), cardiac puncture atau paraorbital sinus puncture (Suckow et al., 2006).
f.        Cara memegang
Handling hewan secara benar dan menahan tikus pada laboratorium dapat memngurangi stress yang tak diinginkan dan variasi (Suckow et al., 2006). Tikus menjadi relatif lebih jinak dan memiliki kecenderungan stress yang rendah (Suckow et al., 2006).  Ketika memegang tikus, tangan harus dilindungi gloves untuk meminimalisir pemaparan terhadap agen berbahaya, urin dan agen alergi lainnya (Suckow et al., 2006). Hewan dipegang pada thoraks denganibu jari, jari kedua digunakan untuk mengkontrol mandibula agar tak mengigit dan jari telunjuk memegang perut (Suckow et al., 2006).
g.       Anestesi
Anestesi merupakan kehilangan kesadaran yang didapat dengan penggunaan anestitik pada formasi retikular (Tate,2012). Pemilihan agen anestetik dan metode yang digunakan memperhartikan adminitrasi, tujuan penelitian, akomodasi personal yang ada, peralatan serta keuangan (Suckow et al., 2006). Metode inhalasing sering digunakan karena karakteristiknya yang cepat onset dan pemulihannya dari anestesia serta relatif sederhana penggunaan alatnya (Suckow et al., 2006)
Sumber:
Hau, J. And G. L. Van Hoosier, Jr. 2003. Handbook of Laboratory Animal Science. 2nd Ed. CRC Press. New York. p. 369
National Research Council. 2011.Guide for the Care and Use of Laboratory Animals. 8th Ed. National Academy of Sciences. Washington, DC.p. 70
Suckow, M. A., S. H. Weisbroth, and C. L. Franklin. 2006. The Laboratory Rat. 2nd Ed. Elsevier. London.p. 129, 305, 589, 608, 610, 612, 628 (Suckow et al., 2006)
Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York. p. 350


KETERKAITAN ILMU KIMIA DENGAN ILMU BIOLOGI

TUGAS KIMIA DASAR
KETERKAITAN ILMU KIMIA DENGAN ILMU BIOLOGI






NAMA            : PUSPITA.
NIM                : 12/3391xx/BI/8x94





UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS BIOLOGI




Keterkaitan Ilmu Kimia dengan ilmu Biologi
            Kimia merupakan ilmu yang mempelajari struktur,komposisi,perubahan yang menyertainya dan perubahan suatu  materi tersebut. Kimia tidak berdiri sendiri sebagai ilmu, akan tetapi terkait dengan ilmu lain.
            Kimia memiliki keterkaitan dengan ilmu biologi. Keterkaitan tersebut karena ilmu biologi menggunakan konsep, hukum dan teori serta menerapkan ilmu kimia untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada organisme makhluk hidup.
            Ilmu kimia sebagai contoh digunakan untuk menjelaskan fenomena kebun setan di Amazon.  Kebun setan tersebut hampir di dominansi oleh tumbuhan Duroia hirsuta. Ternyata dalam kebun tersebut, semut mencegah tumbuhan lain tumbuh dengan menyuntikkan zat kimia beracun berupa asam format. Asam format digunakan oleh semut untuk melindungi diri dari mikrobia parasit.

Daftar pustaka

Campbell,N. A.,J. B. Reece,L. A. Urry.,M. L. Cain,S. A. Wasserman,P. V. Minorsky,and R. B. Jackson. 2010. Biologi. 8 ed. Erlangga. Jakarta.                                            

Saturday, August 8, 2015

The Wings of the Kirin

Kirin no tsubasa
                Film ini menceritakan penyelidikan pelaku penusukan yang mengakibatkan korban meninggal. Korban tersebut bernama Aoyagi. Aoyagi   berjalan dari lokasi penusukan sampai kirin no tsubasa. Saat Aoyagi meninggal, orang yang diduga menusuk orang tersebut (Fuyuki) meninggal akibat tertabrak truk ketika melarikan diri dari kejaran polisi. Fuyuki diduga menusuk Aoyagi karena saat digeledah setelah tertabrak ditemukan  menemukan tas beserta barang-barang korab penusukan.

                Dua orang bernama Kaga dan Matsumiya dari kepolisian menggali siapa penusuk sebenarnya, motifnya beserta alasan korban berjalan menuju kirin no tsubasa. Dan hasilnya didapat hubungan antara korban dan orang yang diduga pelaku penusukan. Akan tetapi hubungan tersebut kurang kuat sebagai motif penusukan. Setelah digali lagi hubungan peristiwa yang terjadi, mengarah pada kejadian tenggelamnya teman anak korban 3 tahun yang lalu. Apakah peristiwa yang terjadi 3 tahun yang lalu? Akankah Fuyuki bersalah atas kematian korban?
                Film ini cukup menarik dan ketika akhir cerita kita akan lebih paham pesan moral yang disampaikan pada penonton. Pesan moral tersebut disampaikan secara tersurat oleh Kaga dengan menasehati sensei anak dari Aoyagi .Walaupun  film ini awalnya terlihat sangat membosankan tapi cara penggalian bukti sangat menarik. Alur cerita juga mudah dipahami. Bagi kalian yang menjadi guru wajib menonton film ini.


Rating menurut saya: 3,5 dari 5.