Showing posts with label FISIOLOGI HEWAN. Show all posts
Showing posts with label FISIOLOGI HEWAN. Show all posts

Friday, April 1, 2016

Panthera pardus

Panthera pardus
A.    Klasifikasi
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Chordata
Subphylum            : Vertebrata
Class                      : Mammalia
Order                     : Carnivora
Family                   : Felidae
Genus                    : Panthera
Spesies                  : Panthera pardus (Hunt, 2011).
B.     Common Names
      Dalam bahasa Inggris Panthera pardus disebut sebagai Panther, sedangkan di Francis dan Jerman dikenal sebagai Leopard atau panthere, spanyol dikenal sebagai leopardo atau pantera (Hutchins et al.,2003).
C.     Persebaran
      Macam Kumbang terdistribusi dari Afrika Selatan, Arab serta Asia Tenggara (Beatty et all.,2008). Persebaran di Asia terdapat di Sri Lanka, Malay Peninsula, Jawa dan Pulau Kangean (Long, 2003).

gambar 1. morfologi macan kumbang

D.    Kebiasaan
      Seperti kucing domestik, Macan Kumbang berburu sendiri  (Beatty et all.,2008). Perburuannya dilakukan pada malam hari dengan sensor pendengaran, penciuman dan pengelihatan  (Beatty et all.,2008). Dengan pengeliahatan yang baik, malam hari mereka dapat melihat dengan baik  (Beatty et all.,2008). Perpindahan Panthera pardus dimalam hari dari 25-75 km (long, 2003). Setelah menemukan buruannya, Macan Kumbang akan mendekat dan bersembunyi diantara tumbuhan dan semak  (Beatty et all.,2008). Macan Kumbang akan menerkam dan menancapkan kukunya ketika telah berjarak 6,5 kaki dari buruannya  (Beatty et all.,2008). Selanjutnya buruannya dimatikan dengan menggigit lehernya dari belakang atau memutuskan spinal cords menggunakan gigi caninus (Beatty et all.,2008; Hoagstrom, 2002). Apabila buruannya besar seperti antelope, Macan Kumbang akan menyimpan sisa buruannya  (Beatty et all.,2008). Sisa buruannya akan diletakkan dicabang pohon agar tak termakan oleh hyena  (Beatty et all.,2008).
      Macan Kumbang hidup secara soliter kecuali untuk betina bersama dengan anakannya  (Beatty et all.,2008). Pejantan terkadang berburu dengan betina setelah proses perkawinan walaupun tidak berperan dalam pengasuhan anaknya (Hoagstrom, 2002). Macan ini memiliki territori yang kita sebut sebagai home range yang merupakan tempat tinggal dan berburu  (Beatty et all.,2008). Luasan home range pada Macan Kumbang bergantung pada jumlah mangsa di area tersebut. Betina memiliki home range 4-112 mil kuadarat yang mengalami tumpang-tindih dengan wilayah home range betina lainnya  (Beatty et all.,2008). Sedangkan jantan memiliki wilayah home range dari 7-440 mil kuadrat dan mengalami overlapping dengan home range jantan serta betina lainnya  (Beatty et all.,2008). Jantan menandai wilayahnya dengan bau dan auman (Hutchins et al.,2003).           
E.     Habitat
      Macan Kumbang ini memiliki habitat yang bervariasi dari hutan hujan tropis sampai padang pasir, pegunungan serta mendekati perkotaan (Beatty et all.,2008).
F.      Makanan
      Macan Kumbang merupakan mammalia karnivora yang memakan daging  (Beatty et all.,2008). Hewan ini memiliki makanan yang bervariasi dari reptil, burung serta mammalia berukuran kecil sampai sedang (Beatty et all.,2008).
G.    Ciri Morfologi
      Panthera pardus memiliki ukuran dari kepala-panjang tubuh 100-190 cm, sedangkan ekor 70-95 cm (Beatty et all.,2008). Macan ini memiliki bobot tubuh 30-70 kg (Beatty et all.,2008). Macan jantan memiliki ukuran yang lebih berat dari betina (Beatty et all.,2008).
      Kaki macan ini relatif lebih pendek dari pada panjang tubuhnya (Hunt, 2011). Kepala lebih luas dengan tengkorak masif mendukung kekuatan otot rahang (Hunt, 2011). Gigi telah terspesialisasi untuk merobek dan memotong dading buruannya (Hoagstrom, 2002). Macan ini memiliki mata yang besar dengan pengelihatan di malam hari yang baik (Hoagstrom, 2002). Scapula telah terspesialisasi mendukung otot yang digunakan untuk memanjat (Hunt, 2011).
      Macan Kumbang memiliki warna dasar yang sangat bervariasi dari kuning krim pada area padang pasir; kuning kemasan di daerah grasslands; dan menjadi keemasan di daerah pegunungan dan hutan (Hoagstrom, 2002). Selain itu, macan ini memiliki spot dengan spot hitam yang tersusun roset sepanjang punggung dan pinggir tubuhnya. Spot roset tidak terdapat dibagian tengah tubuhnya (Hoagstrom, 2002). Warna hitam ini ada karena adanya pigmen melanin (Santra, 2008).

H.    Pola Reproduksi
      Betina siap kawin ketika memasuki umur 2,5-3 tahun, sedangkan jantan dapat mengkawini di usia 2-4 tahun (Friedmann and Traylor-Holzer, 2003). Macan Kumbang tidak memiliki musim kawin dan akan berkembangbiak secepatnya setelah memasuki kedewasaan seksual. Setiap tahun Panthera pardus dapat bereproduksi  (Beatty et all.,2008).
      Jantan dan betina leopard  memiliki pasangan multiple (Hunt, 2011). Betina menarik pejantan dengan hormon yang dikeluarkan melalui urin (Hunt, 2011). Betina selanjutnya menginisiasi mating dengan berjalan mundur dan maju ke depan jantan (Hunt, 2011). Selanjutnya betina menggunakan ekornya untuk menyentuh jantan (Hunt, 2011). Pejantan kemudian menaiki betina dan mengigit tengkuk betina  kopulasi terjadi 3 detik dengan interval 6 menit antara tiap putaran kopulasi (Hunt, 2011). Sepasang macan yang kawin dapat kopulasi sampai 100 kali/hari untuk beberapa hari ketika mereka berbagi sumber makanan (Hunt, 2011). Menurut Bothma & Walker (1999) dalam Friedmann and Traylor-Holzer (2003), apabila betina tidak mengalami perkawinan, oestrus  lagi setiap 20-50 hari.
      Kehamilan Macan Kumbang berlangsung 90-105 hari dengan jumlah anak 1-2 anak  (Beatty et all.,2008). Tapi dapat juga melahirkan maksimal 6 anak (Beatty et all.,2008). Bayi macan ini terlahir buta dengan bobot 15-20 ons  (Beatty et all.,2008). Anakkannya akan mengikuti indukkannya ketika telah berumur 6-8 bulan dan mulai mengikuti perburuan setelah berumur 3 bulan  (Beatty et all.,2008). Selanjunya setelah Panthera pardus saat berumur 8-12 bulan telah dapat hidup secara mandiri  (Beatty et all.,2008). Memasuki usia 12 bulan, indukan akan kurang merawat anakkannya dan mengusir anakkannya secara agresif bila mereka mendekat (Friedmann and Traylor-Holzer 2003).
      Reproduksi di China dan Siberia Tenggara terjadi peranak pada bulan Januari-Febuari (Hunt, 2011). Betina mengalami estrus selama 7 hari dengan panjang siklus 46 hari (Hunt, 2011). Betina berhenti bereproduksi setelah memasuki usia 8,5 tahun (Hunt, 2011).
Gambar 3. Proses perkawinan Leopard
Sumber: www.arkive.org
I.       Arti Penting
      Macan kumbang berperan dalam mengontrol populasi prey dan memanajemen predator yang lebih kecil (Friedmann and Traylor-Holzer 2003). Adanya leopard menunjukkan bahwa lokasi tersebut masih alami dan tidak mengalami gangguan. Spesies ini merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap gangguan, kerusakan habitat atau fragmentasi dan berkurangnya dasar prey (Friedmann and Traylor-Holzer 2003).
J.       Status Konservasi
      Leopard Afrika tidak dimasukkan dalam list IUCN, sedangkan 4 subspesies (Arabia Selatan, Anatolian, Amur dan Leopard Barbary) telah mengalami Critically Endangered. Leopard Zanzibar telah masuk kedalam list terancam punah (Hutchins et al.,2003). Sedangkan menurut arkive.org, leopard masuk dalam klasifikasi Near Threatened dalam list merah IUCN dan masuk kedalam apendiks I CITES. Ancaman terhadap Macan Kumbang ini adalah hilangnya makanan dan penganiayaan yang dilakukan manusia (Hutchins et al.,2003).
      Di Afganistan, macan kumbang dilindungi sehingga perburuan dan perdagangan spesies ini dilarang. Di seluruh area Afrika dan Asia, Macan Kumbang di lindungi dan berkembang sebagai wildlife tourism.  
K.    Life Span dan Laju Mortalitas
      Panthera pardus dialam dapat hidup sampai berumur 14 sedangkan yang hidup di kebun binatang dapat mencapai umur 20 tahun (Beatty et all.,2008). Mortalitas pada betina lebih rendah dari jantan (Friedmann and Traylor-Holzer 2003). Selain itu, mortalitas pada individu tua lebih tinggi dari individu dewasa yang masih prima (Friedmann and Traylor-Holzer 2003).
BAB III
PENUTUP
P. pardus memiliki aspek biologi seperti: pola reproduksi yang tidak memiliki musim kawin, habitat yang sangat bervariasi, dan makanan yang bervariasi sehingga eksistensinya tetap terjaga.          

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Tanpa tahun. Leopard (Panthera pardus). http://www.arkive.org/leopard/panthera-pardus. Diakses pada 19 Maret 2016 pukul 16. 57
Beatty, R., A-J. Beer, J. Green, and B. Taylor. 2008. Exploring The World of Mammals. Chelsea House Publishers. New York. p. 219-221.
Friedmann, Y. And K. Traylor-Holzer. 2003. Leopard (Panthera pardus) Case Study. https://www.cites.org/sites/default/files/ndf_material/WG5-CS4.pdf. Diakses pada 14 Maret 2016 pukul 22.45.
Hoagstrom, C. W. 2002. Magill’s Encyclopedia of Science Animal Life. Salem Press, Inc. California.  p. 946, 947
Hunt, A. 2011. Panthera pardus. http://animaldiversity.org/accounts/Panthera_pardus. Diakses pada 14 Maret 2016 pukul 21.47.
Hutchins, M., A. V. Evans, R. W. Garrison, and N. 2003. Schlager Grzimek’s Animal Life Encyclopedia.  2nd edition. Volume 14. MI: Gale Group. Farmington Hills. P. 385
Long, J. L. 2003. Introduced Mammals of the World  Their Histroy Distribution and Influence.CSIRO Publishing. Collingwood Street. p. 331

Santra, A. K. 2008. Handbook on Wild and Zoo Animals A Treatise for Students of Veterinary, Zoology, Forestry and Environmental Science. International Book Distributing Co. Lucknow. p. 145.

dari tugas makalah mammalogi by C. Puspita Rini

Tuesday, November 24, 2015

Sistem Reproduksi Jantan

Sistem Reproduksi Jantan
Spermatogenesis merupakan proses pembuatan sel sperma (Tortora and Derrickson, 2012).
Sistem reproduksi jantan terdiri atas testis, duktus-duktus, kelenjar tambahan, dan struktur penyokong (Tate,2012). Duktus-duktus pada jantan terdiri atas epididimis, duktus deferentia/vas deferens dan urethra (Tate,2012). Kelenjar tambahan terdiri atas seminal vesicles, kelenjar prostat dan kelenjar bulbourethral. Struktur tambahan terdiri atas skrotum dan penis, yang disebut juga sebagai organ luar kelamin jantan (Tate,2012). Organ internal sendiri terdiri atas testis, epididimis, duktus dan kelenjar (Tate,2012).
Testis merupakan sepasang kelenjar berbentuk oval yang terletak di skrotum (Tortora and Derrickson, 2012). Testis diselubungi oleh jaringan ikat yang membentuk kapsul luar yang disebut sebagai tunika albuginea (Tate,2012). Perluasan tunika albuginea membentuk septa tak utuh yang membagi testis menjadi 300-400 lobules (Tate,2012). Tubulus seminiferous tube yang tergulung berlokasi di lobules dan tempat produksi sperma  (Tate,2012).   Sel Leydig atau sel interstitial merupakan klaster sel dengan jaringan ikat halus yang dikelilingi oleh tubules dan memproduksi testosterone (Tate,2012).
Epididimis merupakan organ berbentuk tanda koma yang panjang dari pinggir posterior tiap testis, dengan fungsi pematangan sperma (Tortora and Derrickson, 2012). Duktus deferens menurun sepanjang pinggir posterior epididimis di spermatic cord dan memasuki pelvic cavity, yang berfungsi untuk mengangkut sperma ketika mendapat rangasangan seksual dan menyimpan sperma (Tortora and Derrickson, 2012). Urethra merupakan pemanjangan dari kantung kemih dari distal dan berakhir di penis (Tate,2012). Urethra terbagi menjadi 3 bagian berupa prostatic urethra, membranous urethra dan penile urethra, fungsinya untuk tempat keluarnya urine dan cairan reproduksi jantan (Tate,2012).
Seminal vesicles merupakan kelenjar berbentuk sac berlokasi dekat dengan ampula duktus deferens (Tate,2012). Kelenjar ini memproduksi alkaline, cairan kental mengandung fruktosa, prostaglandins dan protein kental yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan fertilisasi jantan (Tortora and Derrickson, 2012).
kelenjar prostat merupakan kelenjar berbentuk donat (Tortora and Derrickson, 2012). Prostat memproduksi asam citric, enzim proteolitik,  dan seminalplasmin
         kelenjar bulbourethral memproduksi cairan alkaline ke dalam urethra untuk melindungi pergerakan sperma, mensekresi mucus (Tortora and Derrickson, 2012).
         skrotum mengandung kulit kendur dan dibawah lapisan subcutaneous yang menggantung dari posisi penempelan penis (Tortora and Derrickson, 2012).
         Penis adalah organ kopulasi yang mentransfer sel sperma ke betina (Tortora and Derrickson, 2012).
         Sperma memiliki bagian penting berupa kepala dan ekor. Kepala flat memiliki nukleus dengan 23 kromosom. Kepala sperma dilapisi akrosome yang berisi enzim untuk membantu fertilisasi. Ekor sperma terbagi menjadi 4 bagian: leher mengandung sentriol; bagian tengah mengandung mitokondria penghasil energi; bagian utama dan bagian akhir.
         Menurut Butler,2012 pengamatan sperma dilakukan dengan bagian sel sperma ditempatkan pada mikroskop slide dan difiksasi dengan panas. Sel yang tak bergerak akan terwarnai dengan ‘Christmas Tree’ yang memiliki komposisi berupa alumunium sulfat, nuclear fast red, asam pikrik dan indigo carmine. Selanjutnya sel diamati dengan mikroskop cahaya. Kepala anterior sperma akan berwarna merah atau pink, kepala posterior berwarna  merah gelap, spermatozoa biru, dan ekor akan berwarna kuning kehijauan.
         Menurut Garner dan Hafez (1985) dalam Johari dkk. (2009)  kualitas semen akan dipengaruhi oleh genetik, bangsa, dan pakan.
Sumber:
Amarudin. 2012. Pengaruh Merokok terhadap Kualitas Sperma pada Pria dengan Masalah Infertilitas Studi Kasus Kontrol di Jakarta Tahun 2011. Tesis. Universitas Indonesia. Depok. Hal. 9
Butler, J. M. 2012. Adcanced Topics in Forensic DNA Typing: Methodology: Methodology. Academic Press. London. P. 14
Johari, S., Ondho YS., S. Wuwuh, Henry YB, dan Ratnaningrum. 2009. Karakteristik dan Kualitas Semen Berbagai Galur Ayam Kedu. Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan. Semarang.
Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York.  p. 773, 774, 776, 777, 779
Tortora, G. J. And B. Derrickson. 2012. Principles of anatomy and physiology. John Wiley and Sons. Hoboken. P. 1130, 1131, 1136, 1138, 1140, 1141


Wednesday, November 18, 2015

Sistem Reproduksi Betina

Sistem Reproduksi Betina
                Oogenesis merupakan perkembangan oosit yang dimulai saat fetus (Tate,2012). Saat perkembangan empat bulan, ovari mengandung 5 juta oogonia yang merupakan sel perkembangan dari oosit (Tate,2012).
            Ovari merupakan organ kecil yang tergantung dari dinding tubuh dorsal pada ligamen mesoovarium dan terletak didekat ginjal (Fox et al., 2007). Ovari memiliki jaringan berupa inner medulla dan outer korteks (Shier et al., 2007). Komposisi medulla berupa pembuluh darah, pembuluh limfa dan serabut syaraf (Shier et al., 2007). Sedangkan korteks mengandung jaringan kompaks dan folikel ovarian (Shier et al., 2007). Oviduk merupakan pipa yang tergulung-gulung dari dinding tubuh dorsal pada ligamen mesotubarium yang menghubungkan ruangan periovarian antara ovari dengan bursa bersama uterus (Fox et al., 2007). Oviduk inilah yang menerima oosit dari ovari (Tate,2012). Uterus tikus berupa dupleks dengan 2 uterin seperti tanduk panjang dan tubuh pendek, atau corpus sehingga kenampakkannya seperti huruf ‘Y’  (Fox et al., 2007). Dinding uterus terdapat 3 lapisan beupa: endometrium, miometrim dan perimetrim (Shier et al., 2007). Serviks merupakan saluran lanjutan korpus pada urus (Fox et al., 2007). Vagina merupakan perluasan dari serviks ke bukaan vagina (Fox et al., 2007). Vagina memiliki 3 lapisan berupa mukosal layer, muskular layer dan fibrous layer (Shier et al., 2007). Organ eksternal betina terdiri atas labia majora, labia minora, clitoris dan kelenjar vestibular.
            Fase estus terdiri atas endokrin, tingkah laku dan peristiwa fisiologis yang muncul setiap 4-6 hari dalam kehidupan reproduksi kecuali terjadi kehamilan, pseudopregnancy atau anestrus (Fox et al., 2007). Siklus estrus terbagi menjadi 4 fase: proestrus, estrus, metaestrus dan diestrus (Wicaksono dkk., 2013).
1.      Proestrus dimulai ketika fase anabolik pada siklus dan dilihat pada perkembangan folikel antral di ovari  dan menaikkan konsentrasi esterogen. Kenaikkan ini menstimulasi pembelahan sel di uterus dan vagina serta terdapat akumulasi cairan di oviduk dan uterus. Pada fase ini vagina terbuka lebar dan jaringan berwarna pink-kemerahan dan lembab. Terdapat lipatan longitudional yang dapat dilihat pada bibir dorsal dan ventral.
2.      Estrus merupakan fase dimana betina menerima jantan akibat dari konsentrasi esterogen naik dan berdampak pada perilaku.  Fase estrus ini terjadi proses ovulasi setelah 12 jam lonjakkan LH.  Di uterus dan oviduk terjadi aktifasi pertumbuhan dan akumulasi cairan berlanjut dengan akumulasi cairan di ampulla terlihat jelas. Epitelium di vagina telah mencapai ketebalan maksimalan dan vulva membengkak serta memiliki kenampakkan lebih merah. Vagina menjadi kurang lembab
3.      Metestrus berupa fase katabolik dengan pengurangan konsentrasi esterogen dan LH serta ovulasi. Korpus lutea terbentuk dan atresia tersebar sepanjang folikel. Pertumbuhan di uterus berakhir dan epitelum menunjukkan sinyal degenerasi. Pada vagina lembaran sel epipetal slough off dan leukosit hadir. Metestrus terbagi menjadi 1 dan 2. Metestrus 1 atau awal jaringan vagina pucat dan kering, bibir dorsal tidak sebagai edematous di estrus. Metestrus akhir/ 2 bibir lebih edematous dan surut serta terdapat debris sel putih serta terdapat neutrofil.
4.      Diestrus berupa fase pasif dengan konsentrasi esterogen tetap rendah dan tak adanya proses mating. Korpus lutea tak aktif serta progesteron terproduksi sedikit. Vagina terbuka kecil dan jaringan berwarna ungu dan sangat lembab. Vulva pucat, kering dan tertutup. Terjadi pertumbuhan folikel secara cepat yang berkembang di uterus dan vagina.
            Panjang-pendeknya fase estrus terpengaruhi oleh genetika, handling stress, posisi intrauterine, makanan, menyusui, produksi susu, kondisi tubuh, dan sosial komunikasi seperti feromon (Fox et al., 2007; Wicaksono dkk., 2013).
                Siklus estrus dapat dideteksi dengan melihat morfologi sel dengan vaginal smear (Suckow et al., 2006). Deteksi siklus estrus dapat menggunakan impedence meter untuk mendeteksi resistensi elektikal pada membran mukosa vagina dengan memasukkan electical probe di vagina (Suckow et al., 2006).
Sumber:
Fox, J. G., S. W. Barthold, M. T. Davisson, C. E. Newcomer, F. W. Quimby, and A. L. Smith. 2007.  The Mouse in Biomedical Research. 2nd Ed. Vol III. Academic Press. Tokyo. P. 97, 98, 99, 101 (Fox et al., 2007)
Shier, D., J. Butler, and R. Lewis. 2007. Hole’s Human Anatomy and Physiology. McGraww Hill. New York. p. 847, 855, (Shier et al., 2007)
Suckow, M. A., S. H. Weisbroth, and C. L. Franklin. 2006. The Laboratory Rat. 2nd Ed. Elsevier. London. P. 149, 150
Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York. p. 785, 787, 790 (Tate,2012)
Wicaksono, A. W., I. G. B. Trilaksana, dan D. N. D. I. Laksmi. 2013. Pemberian Ekstrak Daun Kemanggi (Ocimum basilicum) terhadap Lama Siklus Estrus pada Mencit.  Indonesia Medicus Veterinus. 2 (4): 369-374.


Wednesday, November 11, 2015

Platelet

Platelet
                Platelet merupakan darah dengan ukuran kecil tak bernukleated yang telah terputus penjepitannya      dari megakaryocytes di sumsum tulang dengan half-life 10 hari (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Trombosit berfungsi untuk penataan dan aggregasi, melepaskan faktor koagulasi dan provision permukaan fosfolipid untuk perakitan kompleks enzim (Banerhee, 2005). Ketika aliran darah terluka dan kekurangan darah, platelet akan berperan dalam proses pengentalan dengan membatasi kerusakan vaskular dan jaringan (Johnson, 2012). Ketika pendarahan terhenti, trombosit berperan pada proses perbaikan dengan mengeluarkan protein yang akan meningkatkan pertumbuhan peredaran darah dan perbaikkannya (Johnson, 2012).
                Hemostatis merupakan proses menghentikan aliran atau kekurangan darah dengan 3 proses berupa: mengintensifkan kontraksi aliran darah di suatu area, formulasi platelet plug, dan koagulasi (Johnson, 2012).
                Menurut Johnson (2012) ketika terjadi luka, otot halus pada dinding mengalami kejang karena kontraksi pada pembuluh saat pembuluh darah pecah. Bila alirannya berukuran medium sampai besar, kejang ini akan mengurangi pengeluaran darah segera dengan meminimalkan kerusakan pada preparsi untuk step selanjutnya di hemostatis (Johnson, 2012). Ketika kerusakkan vessel kecil, penekanan pada dinding inner bersama dapat menghentikan pendarahan segera. Ketika terjadi kerusakan lapisan pembuluh darah, protein dibawah  dinding vesel terbuka, trombosit menggembung membentuk pelebaran spinky dan memulai menggumpal bersama. Trombosit akan lengket dan mulai melekat ke dinding vessel serta dengan yang lainnya dan menghasilkan segel di area terluka. Kerusakan akan menstimulasi vessel dan platelet terdekat melepaskan aktifator protombrin yang akan mengubah protrombin menjadi trombin yang membutuhkan ion kalsium. Trombin memfasilitasi perubahan fibrinogen yang akan membentuk jaring yang menghubungkan dengan menjebak dan memegang platelet, sel darah dan molekul yang melawan bukaan, kemudian aliran darah daerah luka akan tereduksi. Insisial fibrin membentuk gumpalan kurang dari semenit. Platelet mulai menggumpal sampai menghubungkan dengan mengencangkan gumpalan dan mendorong dinding vessel bersama-sama
Waktu perdarahan merupakan waktu yang digunakan untuk menutup (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Waktu koagulasi merupakan waktu yang diperlukan cairan darah segar untuk berkoagulasi dengan formasi benang fibrin (Khurana, 2012).
Faktor yang mempengaruhi perdarahan adalah elastisitas kulit, kethanan, intergritas vaskuler, adhesi, agregasi trombosit, gangguan fungsi hati, kelainan genetik dan kecemasan (Sari, dkk. 2013). Faktor yang mempengaruhi koagulasi darah berupa vitamin K, ion kalsium, dan platelet. Ion kalsium, vitamin K dan jumlah platelet yang rendah atau sintesis faktor koagulasi tereduksi akibat disfungsi hati akan berakibat pada proses koagulasi (Tate,2012)
Pemeriksaan pada jumlah trombosit, waktu protrombin, waktu pengaktifasi parsial tromboplastin, waktu penggumpalan trombin, dan fibrinogen akan menunjukkan ada tidaknya penyakit hemofilia atau dapat pula untuk mengevaluasi perdarahan pada kelainan koagulasi (MFJ, 2004).
Sumber:
Banerhee, A. 2005. Clinical Physiology an Examination Primer. Cambridge. Cambridge. P. 159,
Johnson, M. D. 2012. Human Biology Concepts and Current Issues. 6th Ed. Benjamin Cummings. Delhi. p. 151-153.
Khurana, I. 2012. Medical Physiology for Undergraduate Students. Elsevier. New Delhi. P. 163
MFJ, M. 2004. Gangguan Koagulasi. Sari Pediatri. 6(1):60-67
Sari, R. P., Sampurna, dan D. Pertiwi. 2013. Pengaruh Sari Buah Kurma (Phoenix dactylifera) terhadap Waktu Perdarahan Studi Eksperimental pada Tikus Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Aspirin. Sains Medika. 5(1):20-22.
Silbernagl, S. And A. Despopoulos. 2009. Color Atlas of Physiology. 6th Ed. Thieme. New York. p.102

Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York.  p. 476.

Wednesday, November 4, 2015

Leukosit

Leukosit
            Leukosit merupakan darah yang memiliki nuklei dan penuh dengan komponen organel tanpa mengandung hemoglobin (Tortora and Derrickson, 2012). Leukosit dibedakan menjadi granular dan agranular berdasarkan adanya granula sitoplasmik(Tortora and Derrickson, 2012). Leukosit residen merupakan jumlah persen neutrofil (12,9%), makrofage (50,1%) dan limfosit (37%) (Lam, 2008). Leukosit mature berada di darah periferal dan prekursornya ada di tulang dan jaringan limfoid terdiri dari sistem leukosit (Troy, 2006)
Leukosit granular terdiri atas neutrofil, eosinofil, dan basofil (Tortora and Derrickson, 2012).
a.      Neutofil memiliki morfologi yang lebih kecil dari lukosit granular lainnya (Tortora and Derrickson, 2012). Neutrofil didistribusikan hanya waktu-waktu tertentu dan memiliki warna ungu pucat (Tortora and Derrickson, 2012). Memiliki nukelus dengan 2-5 lobus yang dihubungkan dengan materi nukleus. Neutrofil merupakan granilosit dengan jumlah terbanyak dan sel yang datang pertama kali ketika terjadi infeksi (Rogers, 2011).  Neutrofil akan melakukan fagositosis pada mikroogranisme yang menginfeksi. Kenaikan jumlah neutrofil dapat terjadi karena infeksi, respon inflamasi, respon stress dan malignancies (Ciesla, 2007).
b.      Eosinofil memiliki ukuran besar dengan granula berukuran yang seragam(Tortora and Derrickson, 2012).  Eosinofil mempunyai 2 lobus yang terkoneksi dengan materi nuklear yang tipis (Tortora and Derrickson, 2012). Eosinofil berfungsi dalam menghancurkan parasit dan merespon inflamatory (Rogers, 2011). Kenaikan jumlah eosinofil terjadi karena penyakit kulit, penyakit parasit, penolakan transplant, dan myeloproliferative disorders (Ciesla, 2007).
c.       Basofil berbentuk bulat dengan ukuran granula yang bervariasi dan mempunyai 2 lobus (Tortora and Derrickson, 2012). Basofil mengandung histamin dan leukotrienes yang penting untuk respons inflamasi alergi (Rogers, 2011). Kenaikan jumlah basofil terpengaruh kondisi berupa  myeloproliferative disorders, reaksi hipersensitif dan ulcerative colitis (Ciesla, 2007).
 Leukosit agranular terdiri atas limfosit dan monosit (Tortora and Derrickson, 2012).
a.      Limfosit memiliki bentuk bulat. Kenaikan jumlah limfosit merupakan diagnosa yang signifikan pada infeksi firal akut dan beberapa penyakit emmnodefisiensi (Tortora and Derrickson, 2012). Limfosit terdiri atas sel B dan sel T (Rogers, 2011). Sel B akan mensekresi protein berupa antibodi yang akan mengikat mikrorganisme asing di jaringan tubuh dan memediasi penghancurannya (Rogers, 2011). Sel T akan mengenali infeksi viral atau sel kanker dan selanjutnya akan menghancurkannya atau dapat pula membantu sel untuk memproduksi antibodi sel B (Rogers, 2011).
b.      Monosit memiliki bentuk nukleus ginjal atau dapat berupa tapal kuda (Tortora and Derrickson, 2012). Monosit akan datang ke daerah infeksi dan melaksanakan fagositosis mikroorganisme patogen yang terbunuh dan membersihkan debris sel dari daerah infeksi (Rogers, 2011). Kenaikkan jumlah limfosit terjadi akibat infeksi kronik, malignancies, leukimia dengan komponen monosit kuat dan kegagalan  sumsum tulang (Ciesla, 2007).

Granulosit pada tikus memiliki nuklei tanpa lobus yang membedakan dan memiliki bentuk tapal kuda atau cincin (Thrall et al., 2012). Neutrofil memiliki sitoplasma tanpa warna (Thrall et al., 2012). eosinofil memiliki nukleus bentuk cincin atau u, sitoplasma basofilik dan beberapa granula sitoplasma eosinofil (Thrall et al., 2012).
White blood count (WBC) merupakan pengukuran jumlah total leukosit di darah (Tate,2012). Normalnya leukosit memiliki jumlah 5000-9000 permikroliter darah. Perhitungan diferensial leukosit adalah mengetahui persentasi setiap 5 macam leukosit pada WBC (Tate,2012).
Tikus mempunyai nilai 9,98 ×103/μL (Thrall et al., 2012). Sedangkan menurut sumber lain, WBC pada jantan berupa 12,43 ×103/μL dan 12,02 ×103/μL untuk betina (Suckow et al., 2006). Jumlah leukosit akan naik ketika terdapat penyakit (Rogers, 2011).

Sumber:
Ciesla, B. 2007. Hematology in Practice. F. A. Davis Company. Philadelphia. P. 144
Lam, T. J. G. M. 2008. Mastitis Control from Science to Practice. Wageningen Academic. The Hague. P. 158
Rogers, K. 2011. Blood Physiology and Circulation. Britannica Educational. New York. p. 40, 41, 42
Suckow, M. A., S. H. Weisbroth, and C. L. Franklin. 2006. The Laboratory Rat. 2nd Ed. Elsevier. London. p. 132
Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York.  p. 483
Thrall, M. A., G. Weiser, R. W. Allison, and T. W. Campbel. 2012. Veterinary Hematology and Clinical Chemistry. Wiley-Blackwell. West Sussex. P. 228
Tortora, G. J. And B. Derrickson. 2012. Principles of anatomy and physiology. John Wiley and Sons. Hoboken. P. 738, 739

Troy, D. B. 2006. Remington the Science and Practice of Pharmacy. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia 

Wednesday, October 28, 2015

Respirasi

Respirasi
          Pernapasan disebut juga sebagai ventilasi merupakan proses pergerakan udara menuju dan keluar dari paru-paru (Tate,2012). Sedangkan menurut Pasley¸2003 ventilasi merupakan proses yang terjadi ketika udara bergerak  dari udara menuju ke alveoli . Dalam proses ini, terdapat dua fase, berupa: fase insprirasi dan ekspirasi. Fase inspirasi disebut juga sebagai inhalasi merupakan pergerakan udara menuju paru-paru, sedangkan ekspirasi merupakan pergerakan udara keluar dari paru-paru (Tate,2012). Perubahan volume thoracic akan menyebabkan perubahan pada tekanan udara pad paru-paru (Tate,2012).  Pernapasan terbagi menjadi pernapasan eksternal dan internal. Respirasi eksternal terjadi di paru-paru dan merupakan pertukaran gas antara alveoli pada paru-paru dan darah di kapiler pulmonari yang melewati respirasi membran (Tortora and Derrickson, 2012). Pada proses ini kapiler pulmonari darah memperoleh oksigen dan kehilangan carbondioksida (Tortora and Derrickson, 2012). Respirasi internal atau respirasi seluler terjadi pada jaringan merupakan perubahan gas antara darah di sistem kapiler dan sel jaringan (Tortora and Derrickson, 2012). Pada step ini darah kehilangan oksigen dan membawa karbondioksida (Tortora and Derrickson, 2012). Pada sel, reaksi metabolik membutuhkan oksigen dan membuang karbondioksida pada produksi ATP (Tortora and Derrickson, 2012). Laju ventilasi akan diregulasi dengan menyesuaian aliran udara antara atmosfer dengan alveoli berdasarkan metabolis tubuh yang membutuhkan oksigen dan mengehilangkan karbondioksida (Sherwood, 2010). Frekuensi pernapasan atau disebut juga sebagai laju respirasi merupakan jumlah napas yang diambil setiap menit (Tate,2012).

          Total ventilasi persatua waktu merupakan volume udara yang dihirup atau dihembuskan persatuan waktu (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Saat istirahat, total ventilasi 8L/menit dengan konsumsi oksigen sejumlah 0,3L/menit  dan tahap pembuangan karbondioksida mempunyai laju sebesar 0,25L/menit (Silbernagl and Despopoulos, 2009).
                    Ruang mati merupakan bagian dari sistem respirasi yang tidak mengalami pertukaran udara (Tate,2012). Rongga hidung, faring, laring, trakea, bronciolus, bronkus dan terminal bronkiolus dari 150 ml ruang mati (Tate,2012). Alveoli yang tak berfungsi menambah ruang mati (Tate,2012). Pada seseorang yang sehat alveoli yang mengalami nonfungsional sangat sedikit (Tate,2012). Ruang mati terdapat 2 berupa: ruang mati anatomi dan ruang mati fisiologi (Banerhee, 2005). Ruang mati anatomi mengacu pada volume udara sekitar 130-180 mL pada dewasa (Banerhee, 2005). Ruang mati anatomi dapat diukur dengan metode Fowler (Banerhee, 2005). Ruang mati fisiologi berupa proporsi volume tidal yang tidak berpartisipasi secara langsung pada pertukaran gas (Banerhee, 2005). Ruang ini terdiri atas ruang mati anatomi dan ruang mati alveolar (Banerhee, 2005). Ruang mati fisiologi dapat diukur dengan metode Bohr (Banerhee, 2005). Paru-paru normal memiliki ruang mati anatomi dan ruang mati fisiologi yang sama sekitar 150 mL (Shier et al., 2007).  
          Spirometer merupakan sebuah alat untuk mengukur  volume udara saat dikeluarkan persatuan waktu (Banerhee, 2005). Alat ini tak dapat mengukur volume residu (Shier et al., 2007). Pada spirometer terdapat air yang memenuhi tank dengan alat berbentuk bel yang mengambang, kemudian dihubungkan dengan ruangan udara dengan spirometer yang akan dihubungkan dengan subsyek tes (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Terdapat bahan yang akan mengimbangi dan terletakkan pada bel (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Posisi bel ini akan menandakan berapa banyak udara yang berada di spirometer dan telah dikalibrasi dengan unit volume (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Bel akan naik ketika subyek tes meniup kealat (ekspirasi) dan turun ketika inspirasi (Silbernagl and Despopoulos, 2009). Pada alat flow transducer aliran sinyal yang telah expired  terintergrasi secara elektronik dengan waktu dan provide volume, selanjutnya sinyal volume terakhir berdiferensiasi dengan membentuk provide flow (Banerhee, 2005). Spirometer digunakan untuk mengevaluasi sakit pernapasan seperti emfisema, pneumonia, kanker paru-paru, dan asma (Shier et al., 2007).  Volume paru-paru dan kapasitasnya terdiri atas:
a.    Volume tidal merupakan volume udara yang dapat bergerak masuk-keluar dari paru-paru setiap pernapasan (Pasley¸2003). Volume tidal selalu kurang lebih 500mL (Pasley¸2003).
b.    Volume cadangan inspirasi merupakan volume udara yang dapat diinspirasikan dengan tarikan napas secara maksimal, dimulai pada akhir respirasi normal dengan volume 2-3L (Pasley¸2003)
c.    Volume cadangan ekspirasi berupa volume udara yang dapat dikeluarkan dengan hembusan napas maksimal dan dikeluarkan setelah hembusan napas normal (Pasley¸2003).
d.    Volume residu merupakan volume udara yang tertinggal pada alveolar dan ruang mati setelah respirasi maksimum dan memiliki volume 1,5 L (Pasley¸2003). Volume residu tak dapat diukur dengan sprirometer sederhana karena pengukuran spirometer mengukur perubahan volume paru-paru dan bukan jumlah absolut pada paru-paru (Pasley¸2003).
e.    Kapasitas vital merupakan volume maksimum udara yang dapat dikeluarkan setelah pengambilan napas maksimum (Pasley¸2003).
f.    Kapasitas total paru-paru merupakan volume maksimal udara pada sistem paru-paru setelah penarikan napas maksimal (Pasley¸2003).
Faktor yang mempengaruhi kapasitas vital paru:
a.    Usia, ketika usia bertambah organ-organ tubuh mengalami penurunan. Hal ini terjadi karena dinding dada dan jalan napas telah kaku dan tak elastis sehingga pertukuran udara menurun (Pujiastuti, 2012).
b.    Hemogloblin, sebagai penyalur oksigen keseluruh tubuh dan ketika kadarnya turun jaringan akan kekurangan oksigen (Pujiastuti, 2012).
c.    Posisi tubuh, posisi yang berbeda akan menghasilkan diafragma tidak bekerja dengan baik karena harus melawan gravitasi (Pujiastuti, 2012).
d.    Ukuran tubuh (Banerhee, 2005)
e.    Kelamin (Banerhee, 2005)
f.    Irama otot diafragma (Banerhee, 2005)
g.    Penyakit paru-paru (Banerhee, 2005)

Sumber:
Banerhee, A. 2005. Clinical Physiology an Examination Primer. Cambridge. Cambridge. p. 121, 132, 133 130(Banerhee, 2005)
Pasley, J. N. 2003. Usmle Road Map Physiology. McGraw-Hill. New  York. p. 56, 57, 73
Pujiastuti, B. 2012. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kapasitas Vital Paru pada Ibu Hamil di Rb Sri Lumintu Jajar Laweyan Surakarta Naskah Publikasi Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Keperawatan. FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA. Surakarta. Hal. 4,5
Sherwood, L. 2010. Human Physiology from Cells to Systems. Brooks/Cole. Belmont, CA. p. 461 (Sherwood, 2010)
Shier, D., J. Butler, and R. Lewis. 2007. Hole’s Human Anatomy and Physiology. McGraww Hill. New York. p. 753 (Shier et al., 2007)
Silbernagl, S. And A. Despopoulos. 2009. Color Atlas of Physiology. 6th Ed. Thieme Verlag. New York. p. 106, 112 (Silbernagl and Despopoulos, 2009)
Tate, S. 2012. Seeley’s Principles of Anatomy and Physiology. 2nd Ed. McGraww Hill. New York.  p. 618, 623, 624
Tortora, G. J. And B. Derrickson. 2012. Principles of anatmoy and physiology. John Wiley and Sons. Hoboken. p. 936. (Tortora and Derrickson, 2012)