Friday, May 26, 2017

Hylocereus megalanthus, Buah Naga

I.              KLASIFIKASI
Klasifikasi dari buah naga kuning adalah:
Kingdom   : Plantae
Phylum      : Tracheophyta                                               
Class          : Magnoliopsida
Order         : Caryophyllales
Family       : Cactaceae
Genus        : Hylocereus
Species      : Hylocereus megalanthus
II.           NAMA LOKAL
Hylocereus megalanthus memiliki basionim “Cereus megalanthus”, dan sinonimnya adalah “Selenicereus megalanthus, Mediocactus megalanthus, dan Cereus megalanthus”.
      Hylocereus megalanthus memiliki common names berupa: yellow pitahaya, yellow dragonfruit, pitahaya, strawberry pear, night blooming cereus  dan pitaya dalam bahasa inggris.
III.        DESKRIPSI JASAD
1.      Perawakan
Berisi deskripsi perawakan  (organoleptik batang, lama hidup, bentuk hidup, tempat dan tatacara hidup, warna tajuk, dan ukuran) dsb
Hylocereus megalanthus merupakan tumbuhan sukulen, hidup dengan cara memanjat dan percabangannya akan tumbuh menempel di pohon ataupun tumbuh di tanah.

2.      Akar           
Akar berupa aerial root yang dapat mensuport tumbuhan untuk melekat ke substrat atau memanjat.
3.      Batang
         H. megalanthus tumbuh cepat, perennial, terestrial, epifit dan tumbuh merambat. Batang berbentuk segitiga, walaupun terkadang bisa berbentuk 4-5 bagian dengan warna hijau, batang berdaging/ flashy, dengan bagian seperti bersendi dengan banyak percabangan batang. Setiap segmen batang memiliki 3 susunan dengan bergelombang, tulang  dengan margin corneous serta 1-3 duri kecil atau malah tidak berduri sama-sekali. Batang dapat tumbuh mencapai 6,1 m (Crane & Balerdi, 2016).
4.      Daun
         Daun pada tumbuhan ini telah mereduksi menjadi duri.
5.      Bunga
Bunga H. megalanthus termasuk hermaphroditic, dapat dimakan, warna putih dengan ukuran besar berbentuk bell. Ukuran bunga panjang 14 inci dan lebar 9 inci. Stamen dan stigma berlobus dengan warna krim.  Bunga mekar pada malam hari (Balerdi & Crane, tanpa tahun).
6.      Buah
         Buah berbentuk bulat dengan panjang 12 cm dan lebar 7 cm. Buah yang belum matang memiliki lapisan duri tipis yang selanjutnya menghilang setelah buah masak (Fern, 2017). Buahnya memiliki bobot kurang dari 250 gram.
7.      Biji
         Biji berukuran sangat kecil dan berjumlah banyak. Biji berwarna hitam yang tertanam dalam pulp warna putih (Crane & Balerdi, 2016).
A.    INFORMASI TAMBAHAN
1.      Asal Usul
H. megalanthus berasal dari daerah tropis benua Amerika, seperti: Meksiko bagian selatan, Guatemala bagian Pasifik, Kosta Rika, El Salvador, Venezuela, Kolombia, Ekuador, Curacao, Panama, Brazil dan Uruguay.
2.      Wilayah agihan geografi
Hylocereus megalanthus terdistribusi di Kolombia, Peru, Ekuador, dan Bolivia (Ostalaza & Loaiza, 2013). H. megalanthus sekarang terdistribusi dari daerah Tropis dan Subtropis, seperti: Florida Selatan, Karibia, Hawaii, Asia, Australia, Taiwan, Vietnam, Malaysia, dan Israel (Crane & Balerdi, 2016).
3.      Data Ekologi
Hylocereus megalanthus tumbuh pada ketinggian 0-1800 m (Ostalaza & Loaiza, 2013). Hylocereus megalanthus hidup di daerah pegununan dan perumahan yang lembab. Tumbuhan ini dapat mentolerasnsi temperatur tinggi, walaupun juga mampu hidup di suhu rendah seperti 0°C. Hylocereus megalanthus tumbuh dengan kondisi tanah yang terdrainasi baik dengan pH 6 ataupun lebih rendah (Fern, 2017). H. megalanthus dapat mentoleransi naungan tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari ekstrim
4.      Keragaman yang telah terdeteksi
5.      Informasi Fitokimia
H. megalanthus mengandung air, protein, lemak, fiber, kalsium, abu, fosfor, besi, niacin dan vitamin C.
6.      Perbanyakan
Hylocereus megalanthus diperbanyak dengan biji maupun stek batang (Fern, 2017). Stek batang dilakukan dengan ukuran batang 12-38 cm, yang diberi fungisida dan dibiarkan selama 7-8 hari dalam keadaan kering dan dengan naungan yang selanjutnya ditanam langsung ke kebun ataupun atau dalam pot yang terdrainasi dengan baik.
7.      Manfaat tradisional dan modern
Hylocereus megalanthus dikultivasi sebagai makanan di Kolombia dan Ekuador, yang selanjutnya dieksport sampai ke Amerika Serikat serta Eropa.
8.      Masa Panen

      H. megalanthus dapat dipanen setelah berumur 3-4 tahun yang menghasilkan buah mencapai 100 kg pertahun, dan diperkirakan tumbuhan ini dapat hidup sampai 20 tahun.


 DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Selenicereus megalanthus (K. Schum... http://www.gbif.org/species/3942259. Diakses pada 2 Mei 2017 pukul 18.59.
Anonim. Selenicereus megalanthus. http://www.gbif.org/species/3944769. Diakses pada 2 Mei 2017 pukul 18.59.
Ostalaza, C. and C. Loazia. 2013. Hylocereus megalanthus. http://www.iucnredlist.org/details/152619/0. Diakses pada 20 Mei 2017 pukul 20.09.
Fern, K. 2017. Hylocereus megalanthus. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Hylocereus+megalanthus. Diakses pada 21 Mei 2017 pukul 09.19.
Crane, J. H. and C. F. Balerdi. 2016. Pitaya Growing in the Florida Home Landscape. IFAS Extension University of Florida. Florida.
Balerdi, C. F. And J.Crane. Tanpa Tahun. The Pitaya (Hylocereus megalanthus) in Florida. University of Florida IFAS EXTENSION.
Jaya, I. K. D. 2010. Morphology and Physiology of Pitaya and it Future Prospects in Indonesia. Crop Agro. 3 (1): 44-50.

Thursday, February 9, 2017

Efek Cahaya pada Germinansi

Efek Cahaya pada Germinansi
Respon biji pada cahaya penting untuk mencegah peristiwa germinasi pada tempat dan waktu yang tak tepat untuk perkembangan seedling (Fenner and Thompson, 2005). Dengan demikian biji memiliki kemampuan untuk mendeteksi aspek cahaya di lingkungan dan mengendalikan tempat dan waktu yang tepat untuk germinasi (Fenner and Thompson, 2005). Menurut Lambers et al., (2008), respon cahaya terhadap germinasi terbagi menjadi 3 tipe. Pertama, cahaya dibutuhkan untuk germminasi biji yang terkubur dalam tanah. biji yang terkubur sangat dalam pada tanah tak dapat bergerminasi karena tak terkena cahaya. Tipe kedua berupa intensitas dan durasi terpapar cahaya akan mematahkan dormansi yang terjadi karena tak adanya cahaya. Tipe ketiga adalah komposisi spektra cahaya akibat modifikasi oleh daun pada kanopi yang terpengaruh oleh germinasi setelah gangguan pada vegetasi.
Kesempatan kesuksesan pembentukkan germinasi ditentukan dengan biji yang terkubur kedalam tanah atau berada di permukaan (Fenner and Thompson, 2005). Apabila biji berada terkubur ditanah, kedalaman menjadi krusial untuk kemunculannya (Fenner and Thompson, 2005).  Kedalaman tanah menjadi hal yang  krusial untuk kemunculan kecambah dengan kondisi biji terkubur (Fenner and Thompson, 2005). Sedangkan bila biji berada di permukaan tanah, tingkat naungan (terutama disekeliling vegetasi) menjadi unsur krusial (Fenner and Thompson, 2005).
Biji yang berada di permukaan tanah akan mengalami kondisi intensitas cahaya yang tinggi akibat terpaar cahaya matahari yang kuat. Sensitivitas pada irradiasi tinggi menyeduiakan mekanisme untuk mereduksi probabilitas kematian seedling akibat temperatur tinggi dan kondisi kekeringan yang terjadi di permukaan tanah.
            Kebutuhan akan cahaya pada biji berguna untuk mendeteksi adanya gap. Secara umum gangguan pada tanah terjadi bersama dengan kerusakan bentuk vegetasi dan merupakan indikator yang baik untuk mereduksi kompetisi dengan menentukan tumbuhan.
            Biji akan mendeteksi cahaya yang berintensitas rendah dengan fitokrom A. Fitokrom A ini akan mempercepat germinasi biji dengan menginduksi kebutuhan cahaya (Fenner and Thompson, 2005). Selain itu, fitokrom a dikenal memiliki respon sangat rendah pada fluence dan terlibat range panjang gelombang yang luas saat densitas fluks foton rendah. Pengembalian bentuk fitokrom b secara spontan dan gradual dari menaikkan proses germinasi menjadi penghambat germinasi dari beberapa jam di dalam kegelapan juga menyediakan mekanisme jam panjang hari dapat terdeteksi.
            Cahaya bereaksi melalui efek temperatur, terutama temperatur alternatif yang dibutuhkan biji untuk germinasi (Luttge, 2008). Germinasi akan diregulasi oleh kualitas cahaya dan sistem fitokrom daripada  dengan intensitas cahaya (Luttge, 2008).

Sumber:
Fenner, M. And K. Thompson. 2005. The Ecology of Seed. Cambrige University Press. Cambridge. p. 116, 117, 120
Lambers, H., T. L. Pons, and F. S. Chapin III. 2008. Plant physiological ecology. Springer. New York. p. 380
Luttge, U. 2008. Physiological ecology of tropical plants. 2nd ed. Springer. Berlin. P. 139

Ponsp, T. L. 2000. Seeds Responses to Light. p. 249. Dalam M. Fenner. Seeds The Ecology of Regeneration in Plant Communities. 2nd Ed. CABI.  London.

Corcyra cephalonica

Corcyra cephalonica
Corcyra cephalonica merupakan serangga hama yang hidup di gudang yang biasa kita kenal sebagai ulat beras (Herlinda et al., 2005).
a.       Manfaat
Corcyra cephalonica sering digunakan sebagai inang pengganti unuk memperbanyak serangga lain (Herlinda et al., 2005). Serangga ini memiliki kelebihan sebagai inang pengganti karena memiliki telur yang besar sehingga memiliki nutrisi yang cukup untuk parasitoidnya serta mudah didapatkan dengan bahan seperti padi, terigu, tepung jagung dan dedak (Herlinda et al., 2005). Selain itu Corcyra cephalonica memproduksi telur dan larva dengan menggunakan biaya yang murah dan cara yang mudah (Bhandari, et al., 2014). Serangga ini dapat digunakan sebagai host telur Trichogramma  yang akan direaring untuk mengkontrol hama, Chelonus blackburni, parasitoid larva, Bracon spp., dan lainnya (Bhandari, et al., 2014)..
b.       Reproduksi
Serangga betina akan dapat memproduksi telur mencapai 90- 200 butir dengan life span 2-4 hari (Bhargava and Kumawat, 2010). Telur yang dihasilkan memiliki bentuk oval dan elips dengan ukuran yang kecil beripa 0,5 x 0,3 mm (Bhargava and Kumawat, 2010). Telur selanjutnya akan menetas setelah 4-7 minggu menjadi larva (Bhargava and Kumawat, 2010). Larva ini akan memakan dibawah silken cocon untuk 8-10 hari yang selanjutnya akan menjadi ngengat. Setiap perkembangan satu generasi membutuhkan 4-7 minggu dan dalam satu tahun dapat memproduksi 4-5 generasi (Bhargava and Kumawat, 2010). Imago dapat hidup selama 10 hari. Siklus hidup serangga ini optimal pada suhu 30-32,5⁰C dan RH 70% (Anonim, 2015).


Daftar Pustaka:
Anonim. 2015. Teknologi Produksi Benih: Hama pada Benih. Bp.ub.ac.id/breeding/wp-content/upload/2015/05/9.-Hama-Benih.pdf. Akses pada tanggal 10 Agustus 2015 pukul 14.13
Bhandari, G., R. B. Thapa., S. Tiwari, and G. S. Bhandari. 2014. Reproductive biology study of Corcyra cephalonica (Stainton) under laboratory condition in Chitwan, Nepal.  Journal of Innovative Biology. 1(4): 206-209.
Bhargava, M. C. And K. C. Kumawat. 2010. Pests of Stored Grains and Their Management. New India Publishing. New Delhi. P. 63-64.

Herlinda, S., A. Ekawati, dan Y. Pujiastuti. 2005. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Corcyra cephalonica (STAINTON) (LEPIDOPTERA: PYRALIDAE) PADA MEDIA LOKAL: PENGAWASAN MUTU INANG PENGGANTI. Jurnal Agrikultura. 16(3):153-159.

Teori sejarah kehidupan:

Teori sejarah kehidupan:
1.      Teori transformisme
Ridley (2004) dalam buku Evolution 3rd Ed  menyatakan bahwa teori transformisme merupakan pendapat Lamarck yang menyatakan bahwa spesies berubah setiap waktu membentuk spesies baru. Prinsip pertama dalam teori ini adalah internal force, sebuah mekanisme yang tidak diketahui pada organisme dan menghasilkan anakan yang berbeda dari indukannya. Prinsip kedua adalah karakter yang diperoleh dalam rangka adaptasi  diturunkan ke anakan.
2.      Teori penciptaan terpisah
Penganut teori ini beranggapan bahwa makhluk hidup diciptakan secara terpisah dan tidak berubah-ubah. Teori ini juga terkenal dengan istilah special creation dan konsisiten dengan kitab Injil dalam hal asal serta perkembangan kehidupan (Fried and Hademenos, 1999).
3.      Teori evolusi
Menurut Campbell et al., (2012) evolusi merupakan penurunan dari orang tua ke anak dan terjadi modifikasi. Modifikasi ini terjadi karena berubahnya komponen genetik populasi dari generasi ke generasi. Perubahan dari generasi ke generasi diungkapkan dengan data dari berbagai displin ilmu, seperti biologi, kimia, geologi, dan fisika.
4.      Teori kehidupan menurut kitab suci
Kitab Perjanjian Lama menyatakan bahwa spesies dibuat sedemikian rupa satu persatu oleh Tuhan sehingga makhluk yang tercipta sempurna (Campbell et al., 2012).
Pembagian evolusi berdasarkan:
1.      Kecepatan
a.       Quasi
b.      Quantum
Quantum evolusi adalah komponen teori multi tempo pada perubahan dalam evolusi,  menjelaskan tentang perubahan cepat dan muncul pada anggora taksonomi tingkat tinggi. Menurut Simpson, laju evolusi berbeda dari group satu ke group lain, walaupun masih memiliki hubungan kedekatan (Kardong, 2017).
2.      Proses
a.       Gradual
Spesiasi secara gradual terjadi dengan perubahan kecil pada suatu organisme sedikit demi sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit (Postlethwait and Hopson,2006)
b.      Punctual
Perubahan anakan yang sangat berbeda dengan indukkan dengan jangka waktu lama. (Postlethwait and Hopson,2006).
c.       Saltasi
Saltasi merupakan perubahan yang muncul pada satu sampai beberapa generasi pada organisme (Theissen, 2009).
.
DARTAR PUSTAKA
Campbell,  N. A., J. B. Reece, L. A. Urry, M. L. Cain, S. A. Wasserman, P. V. Minorsky, & R. B. Jackson. 2012. Biologi Edisi 8 Jilid 2. Erlangga. Jakarta. Hal. 4-5
Fried, G. And G. J. Hademenos. 1999. Schaum’s Outline of Theory and Problems of Biology. McGraw-Hill Professional. New York. P. 6-7
 G,  Theissen .2009. Saltational evolution: hopeful monsters are here to stay. .https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19224263. Diakses pada 7 Febuari 2017 pukul 21.34
Kardong, K. V. 2017.  Introduction to Biological Evolution. Cram 101 Textbook Reviews.
Postlethwait, J. H. & J. L. Hopson. 2006. Modern biology. Holt, Rinehart and Winston. New York. p. 330.

Ridley, M. 2004. Evolution 3rd Ed. Blackwell Publishing.Oxford. p. 7

Monday, November 28, 2016

Carassius auratus sebagai Ikan Invasif di Australia

Carassius auratus sebagai  Ikan Invasif di Australia
A.    Sejarah Introduksi di Australia
           C. auratus telah diintroduksi pada tahun 1876 (Anonimb, 2011). Introduksi C. auratus ke Australia untuk pemanfaatannya sebagai hewan akuarium (Anonimb, 2011). C. auratus berada diperairan dapat dikarenakan introduksi oleh migran sebagai makanan tradisional atau dilepaskan dari aquariam (Anonim, 2012). C. auratus saat ini  ditemukan di perairaan Selatan-Barat Australia.
B.     Kerusakkan dan Kerugian
Informasi mengenai dampak dari C. auratus di Australia pada spesies asli masih sangat limit (Arthington and McKenzie, 1997). C. auratus menimbulkan perubahan habitat dengan menggali di sekitar lapisan dasar sungai dan danau, mencabuti tumbuhan dan membuat perairan keruh sehingga nutrien meningkat yang selanjutnya terjadi alga bloom dan terjadinya nutiren tereduksi makanan alami untuk spesies lain.
C. auratus memiliki potensi untuk menyebarkan penyakit dan parasit bagi ikan native  (Anonima, 2011). Pada tahun 1970an C. auratus membawa penyakit dari Jepang ke Australia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan berefek pada populasi C. auratus dan common carp di Australia Selatan dan Timur. Penyakit tersebut tidak berefek pada spesies ikan natif Australia (Anonim, 2009). Akan tetapi, menurut Lintermans (2009) C. auratus yang diimport dari jepang ke Victoria dianggap bertanggung jawab mengintroduksi penyakit Goldfish ulcer yang menyerang spesies salmonid seperti ikan trout (Lintermans, 2009).
C. auratus dapat berkompetisi dengan spesies native dalam hal makanan dan juga dapat memakan spesies lain saat muda (Anonim, 2012). Selain itu, C. auratus  memiliki makanan yang overlap dengan spesies katak Canadian (Corfield, et al., 2008). C. auratus dapat mengancam hewan asli Australia dengan cara memakan telur salamender serta spesies katak Australia (Corfield, et al., 2008). Juvenil C. auratus dapat memakan element komunitas zooplankton di Australia, dan hal ini menyebabkan perubahan pada stuktur komunitas zooplankton. C. auratus selanjutnya menjadi mendominansi pada komunitas ikan di Australia. Densitas  zooplankton akan menurun akibat predasi C. auratus yang tinggi dan menyebabkan efek kaskade ekologikal pada spesies nativ Australia (Corfield, et al., 2008). Ikan nativ yang dirugikan adalah reour cod Maccullochella macquariensis.
C.    SIFAT BIOLOGI
1.      Klasifikasi
     Klasifikasi  menurut Street (2002).dari Carassius auratus adalah seperti dibawah ini:
Kingdom         : Animalia                            
Phylum            : Chordata
Subphylum      : Vertebrata
Class                : Actinopterygii
Order               : Cypriniformes
Family             : Cyprinidae
Genus              : Carassius
Spesies            : Carassius auratus
     Carassius auratus dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Goldfish dan Golden Carp  (Hutchins, et al., 2003).
2.      Karakter
      Carassius auratus memiliki ukuran standar 13-19 cm, akan tetapi  ukurannya dapat mencapai 59 cm (Hutchins, et al., 2003; Corfield, et al., 2008). Tubuh gemuk dan kompres. Tubuh simetris bilateral. Moncong ikan  pointed. Mulut terminate dan oblique. Gigi pharyngeal dalam satu barisan. Gigi ini digunakan untuk menghancurkan makanan (Street, 2002). Gill raker 37-43. Sirip dorsal panjang dengan 4 spina dan 15-19 ray (lunak). Sirip anal pendek dengan 3 spina dan 5 rays. Spina pada anal dan bagian dorsal paling akhir bergerigi (serrated). Jantan pada anal finnya berbenyuk concave, sedangkan betina konfeks (Nico, et al., 2016). Garis tengah komplit dengan 27-30 sisik. C. auratus liar berwarna olive-hijau pada punggungnya dan abu-abu-putih di perut  (Hutchins, et al., 2003). Bobot C. auratus dapat mencapai 4,5 kg (Anonim, 2012). C. auratus tidak memiliki barbel pada bibir bagian atas (Anonima, 2011). Mata besar dengan indra penciuman dan pendengaran yang tajam. Seksual dimorfisme memiliki kenampakkan yang sama (Street, 2002).
     C. auratus yang dipelihara dalam aquarium memiliki variasi bentuk dan warna. C. auratus secara umum dapat terbagi menjadi 4 tipe, yaitu: a) grass, dengan primitifdan tubuh ramping, kepala pointed, mata kecil dan ekor satu/dobel; b) fancy, ekor dobel dan siripnya panjang; c) dragon/mata, mata besar dengan mata yang menonjol keluar; dan d) bentuk telur, sirip dorsal tidak ada  (Hutchins, et al., 2003).
3.      Makanan
             Makanan C. auratus adalah tumbuhan, krustasea kecil, detritus, moluska, cacing akuatik serta dapat memakan memakan larva yang bervariasi dan serangga aquatik (Corfield, et al., 2008; Hutchins, et al., 2003). C. auratus yang dipelihara diberikan makanan pelet (Street, 2005).
     Cara makan C. auratus adalah dengan cara menyedot sedimen ketika dia memakan benthos. Perilaku makan yang demikian akan menyebabkan kenaikan turbinitas Corfield, et al., 2008).
4.       Lifespan
             C. auratus dapat hidup sampai berusia 30 tahun (Corfield, et al., 2008). Street (2002) berpendapat bahwa C. auratus yang dipelihara ada yang mencapai 43 tahun, sedangkan yang dialam rata-rata mencapai 41.
5.       Distribusi
             C. auratus merupakan spesies nativ asia, menurut Street (2002) asal ikan ini adalah di China. Tipe liar telah diintroduksi sampai ke Eropa dan Amerika Utara. Varietas aquarium telah diintroduksi ke seluruh dunia  (Hutchins, et al., 2003). Range indigenous C. auratus adalah dengan latitute  22-53°N  dari subtropikal sampai temperate. Range introdusnya sangat tersebar dari temperate yang dingin sampai subtropis diseluruh dunia  (Corfield, et al., 2008).
     C. auratus diintroduksi ke nearctic, oriental, ethiopian, neotropical dan australian (Street, 2002).
1.      Perilaku
            C. auratus merupakan ikan sosial. C. auratus dapat memiliki densitas populasi yang tinggi pada kondisi tertentu  (Hutchins, et al., 2003). C. auratus  memperlihat perilaku sedikit agresif (Corfield, et al., 2008).
2.      Habitat
            C. auratus hidup di perairan hangat dan dangkal dengan vegetasi lebat seperti danau, reservoir dan sungai, akan tetapi lebih menyukai habitat yang lebih dingin (cooler water) (Hutchins, et al., 2003; Anonima, 2011). C. auratus dewasa secara umum ditemukan di dasar, walaupun terkadang muncul di permukaan  (Hutchins, et al., 2003). C. auratus secara umum ditemukan pada sungai, kolam dan dam (Anonima, 2011).  Menurut Welcomme (1988) dalam Corfield, et al., (2008). Populasi C. auratus didaerah tropis ditemukan pada altitude 200-1000 m.
     C. auratus hidup dengan range pH 6,5-8,5 (Street, 2002).
3.      Reproduksi
            C. auratus dewasa ketika ukuran tubuh mencapai 9 cm pada 1-2 tahun.  C. auratus bertelur ketika musim semi sehingga temperatur air mencapai 15,6C dan hujan muncul. Telur akan dikeluaran membentuk kumpulan-kumpulan dan menempel pada tumbuhan akuatik atau bahkan objek lain. Jantan akan membuahi telur secepatnya. Inkubasi membutuhkan waktu 4 hari pada suhu 17-19C. Larva yang telah menetas melekat pada tumbuhan, 1-2 hari kemudian anakan baru dapat berenang bebas. Varietas fekunditas bervariasi dari 12.000-28.000 telur perindividu  (Hutchins, et al., 2003).
4.      Toleransi Lingkungan
            C. auratus dapat mentolerir salinitas sampai kadar salinitas 17 ppt. Selain itu, C. auratus dapat bertahan pada kondisi oksigen yang rendah dengan berasosiasi menggunakan air yang mengenang. C. auratus juga dapat mentoleransi kadar pH dari 6-8 (Corfield, et al., 2008).
5.      Waktu Generasi
             C. auratus membutuhkan waktu minimal 1,4-4,4 tahun agar populasi menjadi 2 dobel.
6.      Status Konservasi
             C. auratus tidak masuk dalam list IUCN, akan tetapi tipe lokal mengalami ancaman serius karena hibridisasi artifisial dan transplantasi  (Hutchins, et al., 2003). C. auratus tidak memiliki status spesial pada US Federal List, CITES dan State of Michigan List (Street, 2002).
7.      Signifikasi pada Manusia
             C. auratus merupakan makanan, walaupun produksinya lebih sedikit dari Common Carp. C. auratus dimanfaatkan sebagai ikan aquarium (Hutchins, et al., 2003). C. auratus juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan karnivor (Street, 2002).
8.      Predator
             C. auratus dimakan oleh Ardea herodias, Butorides virescens, Larus delawarensis, Cercyle alcyon, kura-kura dan Esox lucsius.
14. Lain-Lain
                   C. auratus dan Common carp dapat berhibridisasi (Street, 2002).
A.    Upaya Pengendalian dan Pencegahan yang telah dilaksanakan
            Pencegahan persebaran C. auratus secara sederhana dan mudah adalah tidak melepaskannya di perairan. C. auratus sebaiknya diamankan pada kolam ornamel yang tak dapat mengalami kebanjiran sehingga ikan ini dapat melarikan diri (Anonim, 2012).
             Apabila menemukan atau menangkap C. auratus jangan dilepaskan tapi silahkan dimakan atau dihilangkan secara manusiawi (Anonim 2012).
            Morgan and Beatty (2004) mengusulkan untuk menangkap dengan jaring, seine net, gill net atau electrofishing pada area yang memiliki densitas tinggi untuk membasmi C. auratus (Anonim, 2016).    
B.     Contoh Kasus
           C. auratus mengintroduksi sungai Vasse dan dapat tumbuh lebih dari 40 cm selain itu berkontribusi terhadap alga bloom. Tahun 2003 atau 2004 C. auratus telah terkonsentrasi pada area spesifik. Metode yang digunakan untuk menangkap C. auratus adalah dengan generator electrofisher yang dikombinasi dengan monofilament gill net. C. auratus sebaiknya ditangkap setiap 1-2 minggu tiap tahun antara  mid-summer dan awal musim semi ketika level air pada ketinggian terendah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Goldfish General Information. https://www.daf.qld.gov.au/fisheries/pest-fish/non-indigenous-fish/goldfish. Diakses pada 25 Oktober 2016 pukul 21.25  
Anonima. 2011. Pest Fish of Queensland Identification Guide. The State of Queensland, Department of Employment, Economic Development and Innovation.
Anonimb. 2011. Advice to the Minister for Sustainability, Environment, Water, Population and Communities from the Threatened Species Scientific Committee (the Committee) on an Amendment to the List of Key Threatening Processes under the Environment Protection and Biodiversity Conservation Act 1999 (EPBC Act). https://www.environment.gov.au/system/files/pages/e3891c44-d0ce-4f00-bc55-aa57eca41f96/files/outside-fish-advice.pdf.  Diakses pada 7 November 2016 pukul 15.04
Anonim. 2012. Aquatic Invaders Identification Guide. Government of Western Australia Departement of Fisheries.  Perth.
Anonim. 2015. Invasive Species. www.epa.nsw.gov.au. Diakses pada 25 September 2016 pukul 9.42
Anonim. 2016. Global Invasive Species Database (2016) Species profile: Carassius auratus. http://www.iucngisd.org/gisd/species.php?sc=368#. Diakses pada 25 Oktober 2016 pukul 21.15
Anonim. Tanpa Tahun. Invasive Species. Natural Resource Management. Tasmania
Arthington, A. And F. McKEnzie. 1997. Review of Impacts of Displaced/Introduced Fauna Associated with Inland Waters.Commonewealth Canberra.
Corfield, J., B. Diggles, C. Jubb, R. M. McDowall, A. Moore, A. Richards, and D. K. Rowe. 2008. Report to The Australian Goverment Departement of the  of the Environment, Water, Heritage and the Arts  Review of the impacts of introduced ornamental fish species that have established wild populations in Australia Australian Goverment Department of the Environment, Water, Heritage and the Arts. P. 111
Hutchins, M., A. V. Evans, R. W. Garrison, and N. 2003. Schlager Grzimek’s Animal Life Encyclopedia.  2nd edition. Volume 4. MI: Gale Group. Farmington Hills. P. 308-309.
Lintermans, M. 2009. Fish of the Murray- Darling Basin an Introductory Guide. Murray-Darling Basing Authoriry. Canbertta. P. 120-121.
Morgan, D., S. Beatty, and H. McLetchie. 2004. Control of Feral Goldfish (Carassius auratus) in the Vasse River. Report to the Vasse-Wonnerup LCDC.
Nico, L.G., P.J. Schofield, J. Larson, T.H. Makled and A. Fusaro. 2016. Carassius auratus. https://nas.er.usgs.gov/queries/FactSheet.aspx?speciesID=508. Diakses pada 25 Oktober 2016 pukul 22.52
Street, R. 2002. Carassius auratus. animaldiversity.org/accounts/Carassius_auratus/. Diakses pada 11 Oktober 2016.

Friday, September 9, 2016

PENGENALAN MAMMAL KOLEKSI MUSEUM BIOLOGI

PENGENALAN MAMMAL KOLEKSI MUSEUM BIOLOGI  
  Hasil dan Pembahasan
1.      Rattus sp.
 Kingdom               : Animalia
 Phylum                  : Chordata
 Subphylum                        : Vertebrata
 Class                      : Mammalia
 Order                     : Rodentia
 Family                    : Muridae
 Genus                    : Rattus
Spesies                  : Rattus sp. (Myers et. all., 2016)
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\13012892_10201804959563780_2056597321681809397_n.jpg
Gambar 1. Preparat awetan dari Rattus sp.
     Rattus sp. memiliki sepasang rahang yang panjang, rootless, chisel-like dengan incisipus tumbuh sepanjang hidupnya. Gigi kaninus tidak ada. Terdapat diastema yang merupakan ruang kosong anatara molar dan kaninus. Moncongnya panjang. Pada digiti terdapat cakar.  Testis terdapat di abdominal. Ekor Rattus sp. memiliki sisik.
     Hewan ini dikenal sebagai rodensia hama yang hidup di lubang dan membuat lubang di rumah serta ladang. Rattus sp. merupakan hewan yang cerdas dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Selain itu, hewan ini termasuk hewan nokturnal dan bereproduksi secara cepat (Kotpal, 2010)
2.      Rattus exulans
 Kingdom               : Animalia
 Phylum                  : Chordata
 Subphylum                        : Vertebrata
 Class                      : Mammalia
 Order                     : Rodentia
 Family                    : Muridae
 Genus                    : Rattus
 Spesies                   : Rattus exulans (Ruedas et. al., 2008)
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\r. exulans.jpg
Gambar 2. Preparat awetan dari Rattus exulans
     Tubuh di bagian atas berwarna coklat, sedangkan bagian bawah berwarna coklat abu-abi. Ekor berwarna gelap dan terkadang bagian bawah agak pucat.
     Merupakan salah satu hewan nokturnal. Hidup di hutan dekat persawahan hingga pemukiman. Makanan berupa tumbuhan dan hewan kecil (Ario, 2010).
3.      Bandicota indica
 Kingdom               : Animalia
 Phylum                  : Chordata
 Subphylum                        : Vertebrata
 Class                      : Mammalia
 Order                     : Rodentia
 Family                    : Muridae
 Genus                    : Bandicota
Spesies                    : Bandicota indica (Myers, et. al., 2016).
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\12998527_10201804959843787_2700709109056084836_n.jpg
Gambar 2. Preparat awetan Bandicota indica
Bandicota indica merupakan tikus yang  panjang dengan rambut yang tak rapi. Tubuh bagian  atas berwarna kehitaman-coklat terkadang terdapat bagian abu-abu di tepi.  Ekor lebih pendek dari kepala. Kaki besar dan lebar dengan warna coklat gelap sampai kehitaman.
Gigi incisipus sangat luas, bersudut menuu bawah atau membentuk kurva. Dalam tengkorak, tulang nasal panjang, nostril tersembunyi dan insicipus dari atas. Kelenjar mammal 3+3.
Hidup secara nokturnal dan ditemukan di daerah sawah .  Makanan  berupa  tumbuhan dan  invertebrata (Francis and Barrett,). 
4.      Rattus tiomanicus
 Kingdom               : Animalia
 Phylum                  : Chordata
 Subphylum                        : Vertebrata
 Class                      : Mammalia
 Order                     : Rodentia
 Family                    : Muridae
 Genus                    : Rattus
Spesies                    : Rattus tiomanicus (Ario, 2010).
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\12985474_10201804958323749_5654616545429981837_n.jpg
Gambar 4. Preparat awetan dari Rattus  tiomanicus
R. tiomanicus memiliki ciri khas berupa warna rambut punggung yang kontras dengan warna rambut dada serta perut. Rambut punggung berwarna kecoklatan, sedangkan rambut dada serta rambut perut putih. Panjang tubuh dari 100-180 mm, dengan ekor 80-110 mm, telapak kaki belakang 25-34 mm.
Hidup didaerah semak belukar dan aktif malam hari. Hidup di daerah terestrial dan memakan dari tumbuhan sampai hewan kecil (Ario, 2010).
5.      Delphinus delphis
 Kingdom               : Animalia
 Phylum                  : Chordata
 Subphylum                        : Vertebrata
 Class                      : Mammalia
 Order                     : Cetacea
 Family                    : Delphinidae
 Genus                    : Delphinus
Spesies                    : Delphinus delphis (Alspaugh, 2010).
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\12987202_10201804962643857_7995187481672379469_n.jpg
Gambar 5. Preparat awetan Delphinus delphis
Delphinus delphis memiliki tubuh ramping dengan moncong sedang hingga panjang serta sirip punggung tinggi dan sedikit membentuk sabit. Panjang tubuhnya mencapai 2,3 m (betina) dan 2,6 m (jantan). Berat tubuhnya maksimal 150 kg. Punggung berwarna abu-abu gelap kecoklatan, perut putih dan warna coklat-kekuningan di sisi belakang. Bibirnya gelap dan terdapat garis yang melingkari daerah seputar mata.
Makanan berupa ikan, gurita, dan cumi-cumi (Hutchins et al., 2003).
Delphinus delphis ditemukan di perairan kostal.  Perjalanan 5-7mil dapat ditempuh dalam 1 jam. Spesies ini dapat kita jumpai di Pasifik dan Atlantik Amerika Utara.
Merupakan hewan sosial. Perjalanan dalam mencari mangsa bersama kawanannya.
6.      Manis javanica
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                     : Pholidota
Family                   : Manidae
Genus                    : Manis
Spesies                  : Manis javanica (Breen, 2003).
Gambar 2. Manis javanica
  Ukuran tubuh M. javanica dari kepala sampai tubuh sekitar 50-60 cm dan pajang ekor 50-80 cm (Hutchins et al., 2003).  M. javanica memiliki sisik berwarna ember-kuning atau coklat kehitaman. (Hutchins et al., 2003). Selain itu, M. javanica memiliki kulit yang keputihan dan terdapat rambut di dasar sisik tubuh. Memiliki cakar di kaki depan  (Ario, 2010). Kepala dan ekor yang pankang akan menipis dan menggantung dibawah tubuh saat berjalan di atas tanah. Ekor dapat melingkari tubuh bila diganggu yang berfungsi sebagai pelindung tubuh yang tak bersisik.
       M. javanica merupakan hewan nokturnal dan predonan terestrial tapi juga dapat memanjat (Hutchins et al., 2003). Ketika siang hari,  M. javanica akan  tidur di liang bawah tanah. Hidup didaerah pegununan, hutan sekunder dan lahan berkebunan (Ario, 2010).
      M. javanica memakan termites, semut dan pupa. Makan berupa semut dan rayap diambil dari sarang yang berasal dari pepohonan. Sarang tersebut diambil dengan membuka sarang menggunakan cakar dan isi dijilat dengan lidah panang dan lengket. 
7.      Callosciurus notatus
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                     : Rodentia
Family                   : Scuiridae
Genus                    : Callosciurus
Spesies                  : Callosciurus notatus (Constantine, 2006)
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\12963821_10201804957963740_319892206708303261_n.jpg
Gambar 7. Preparat awetan Callosciurus notatus
Callosciurus notatus memiliki warna coklat olive pada bagian atas dan ekor. Bagian dalamnya berwarna merah-coklat. Betina memiliki 2-3 kelenjar susu. Berat tubuh dari 160-259 gram. Ukuran tubuh dari 152-224 mm, ekor berukuran 146-211mm dan kaki belakang 38-47mm.
Memiliki gigi incisipus 2 pasang dibawah dan di atas. Gigi incipus atas lebih besar. Gigi premolar bagian atas 2 dan 1 dibagian bawah setiap sisi  rahang dan 3 di atas dan bawah adalah molar. Kaninus tidak ditemukan pada spesies ini. Makanan berupa bunga, biji, serangga, dan daun.
Callosciurus notatus hidup secara arboreal ditemukan  pada perkebunan,  hutan semak, hutan hujan dan hutan mangrove. Callosciurus notatus adalah hewan diurnal dan ditemukan sendiri atau dalam group kecil.
8.      Pteropus vampyrus
Kingdom   : Animalia
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                     : Chiroptera
Family                   : Pteropodidae
Genus                    : Pteropus
Spesies                  : Pteropus vampyrus (Norton, 2011)
      P. vampyrus merukan spesies kelelawar terbesar di dunia. Panjang forearm mencapai 180-220 mm dengan mean wingspan 1,5 m dan bobot tubuh 0,6-1,1 kg. Telinga panjang dan pointed dengan wajah seperti anjing. Rambut dibagian atas dorsal pendek dan stiff. Kepala dan tubuh bagian atas tertutup oleh mantel gelap dengan warna dari merah mahoni sampai hitam sedangkan ventral lebih gelap ari bagian tubuh lainnya. Sayap memiliki bentuk yang pendek dengan ujung yang membulat. Membran sayap pada P. vampyrus tidak memiliki rambut. Hindleg pendek dan termasuk membran sayap. Klavikula kuat dan berfusi dengan skapula dan sternum. Mata kecil dengan daya penglihatan yang lemah. Telinga memiliki pinnae.
P. vampyrus hidup di hutan tropis dan swamps. Saat siang hari, berada di pohon yang besar. Di pohon besar telah digunakan  bertahun-tahun oleh P. vampyrus. Poho tersebut digunakan untuk menajamkan cakar.
Tengkorak P. vampyrus berupa robust dengan orbit yang hampir komplit dan zygomatic arch yang luas. Formula iginya adalah 2/2, 1/1, 3/3, 2/3 dengan total gigi 34. Kaninus atas memiliki prominen anterior groove dan groover kecil pada permukaan dalam.
9.      Galeopterus variegatus
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                     : Dermoptera
Family                   : Cynocephalidae
Genus                    : Galeopterus
Spesies                  : Galeopterus variegatus
Description: C:\Users\CANDRA-UY\Documents\mammal museum\12994382_10204794205494752_4653640514239659535_n.jpg
Gambar 8. Galeopterus variegatus
      Galeopterus variegatus merupakan  mammlia yang dapat terbang, yang sebenarnya dia hanya meluncur saja. Morfologinya adalah kepala kecil, mata steroskopik, dahi lebar dan telinga kecil. Moncongnya agak tumpul tak tidak terlihat adanya kumis atau janggut tipis di wajah. Rambut tubuh pada bagian dorsal tebal dan berbintik sedangkan rambut bagian ventral pucat.  Pada bagian lateral tubuh terdapat membran yang kita sebut sebagai patagium yang berfungsi untuk meluncur. Patagium  memiliki rambut dan  memanjang dari kaki depan hingga belakang serta dari leher sampai kuku. Jari pada Galeopterus variegatus memiliki membran dan bercakar. Jari berbentuk pipih dan dibagian telapak jari membentuk piringan penghisap yang berfungsi membantu mencengkram saat memanjat pohon.
      Galeopterus variegatus hidup secara arboreal, yang sebagain besar hidupnya dihabiskan di atas pohon. Hidup di daerah hutan hujan tropis di datara tinggi serta dapat ditemukan di hutan yang telah terganggu oleh aktifitas manusia. Galeopterus variegatus tersebar di Asia Tenggara dan edemik Indocina serta dataran sunda.
      Galeopterus variegatus termasuk herbivora dan dolivora yang memakan aun dan bunga. Selain itu, Galeopterus variegatus dapat memakan nektar.
10.  Macropus sp.  
Kingdom               : Animalia
Phylum                  : Chordata
Class                      : Mammalia
Order                     : Diprolodontia
Family                   : Macropodidae
Genus                    : Macropus
Spesies                  : Macropus sp.


      Kepala pendek dengan monong panjang dan tertutup rambut halus, telinga panjang dan tegak. Kaki depan jauh  lebih pendek dari kaki belakang. Memiliki kantung yang berada di bagian perut/ventral. Ekor panjang dan digunakan unuk keseimbangan saat berjalan. Rambut di bagain tubuh tebal dan kasar. Jantan memiliki ukuran tubuh 2 kali lebih besar dari betina. Betina memiliki vagina dobel. Spesies hewan ini memiliki 3 premolar dan 4 molar setiap rahang.
      Habitat Macropus sp. berupa hutan sampai padang rumput. Selain itu juga ditemukan di hutan yang luas dengan curah hujan tinggi atau agak kering. Persebaran hewan ini dari Australiadan beberapa wilayah Tasmania. Spesies ini tidak dilindungi. Makanan berupa rumput da dedaunan.
      Satu jantan berpsangan dengan 5-6 betina. Mereka hidup secara sosial dengn anggota mencapai lebih dari 50 individu dengan dominansi jantan (Jackson, 2003).

B.     Kesimpulan
Ordo Marsupialia memiliki masup’um yang berada di abdominal dan menggunakan untuk tempat perkembangan pada saat immature. Dermaptera memiliki ciri khas dapat gliding dengan patagiumnya. Chiroptera memiliki forelimb yang termodifikasi menjadi sayap/patagium. Rodentia memiliki sepasang rahang yang panjang, rootless, chisel-like dengan incisipus tumbuh sepanjang hidupnya. Pholidota  memiliki ciri tubuh tertutup sisik tulang yang overlapping dan terdapt rambut diantara sisiknya. Cetacea memiliki ciri mammalia yang mirip ikan dengan rambut yang tereduksi, pektoral limb termodifikasi menjadi mirip dayung.

C.     Daftar Pustaka
 Alspaugh, M. 2000. Delphinus delphis Short-Beaked Saddleback dolphin. http://animaldiversity.org/accounts/Delphinus_delphis.  Diakses pada 16 April 2016 pukul 22.09.
Ario, A. 2010. Panduan LapanganMengenal Satwa Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Conservation Internasional Indonesia. Jakarta. p. 41, 42, 52
Breen, K. 2003. Manis javanica Malayan pangolion. http://animaldiversity.org/accounts/Manis_javanica. Diakses pada 3 April 2016 pukul 15.04.
 Constantine, J. 2006. Callosciurus notatus Plantain Squirrel. http://animaldiversity.org/accounts/Callosciurus_notatus/. Diakses pada 16 April 2016 pukul 22.29
Francis, C. M. and p. Barrett. 2008. A Guide to the Mammals of South-East Asia. New Holland Publishers. London.  P. 355
Hutchins, M., A. V. Evans, R. W. Garrison, and N. 2003. Schlager Grzimek’s Animal Life Encyclopedia.  2nd edition. Volume 15. MI: Gale Group. Farmington Hills. p. 56
Hutchins, M., A. V. Evans, R. W. Garrison, and N. 2003. Schlager Grzimek’s Animal Life Encyclopedia.  2nd edition. Volume 16. MI: Gale Group. Farmington Hills. p. 116
Jackson, S. 2003. Australian Mammals Biology and Management. CSIRO. Collingwood VIC.
Kotpal, R. L. 2010. Modern Text Book of Zoology Vertebrates [Animal Diversity II]. Rastogi Publications. New Delhi. p. 491, 492
Myers, P., R. Espinosa, C. S. Parr, T. Jones, G. S. Hammond, and T. A. Dewey. 2016. Bandicota indica Greater Bandicoot Rat.. http://animaldiversity.org/accounts/Bandicota_indica/classification/. Diakses pada 16 April 2016 pukul 22.13
Norton, K. 2011. Pteropus vampyrus Large Flying Fox. http://animaldiversity.org/accounts/Pteropus_vampyrus. Diakses pada 16 April 2016 pukul 12.17.

Ruedas, L., Heaney, L. & Molur, S. 2008. Rattus exulans. http://www.iucnredlist.org/details/19330/0. Diakses pada 16 April 2016 pukul 21.28.